ini salah satu karyaku !belum selesai sih . tapi,liat aja deh ! hahaha xp
Liburan Berakhir
Dua minggu pun akhirnya harus berlalu.Artinya,liburan harus berakhir.Tepat di hari Rabu ini,aku juga semua anak-anak SMA 03 menjalani sekolah seperti biasa.Belajar.Ya,ya,be-la-jar.Emang kadang-kadang,aku malas belajar.
Kedua kakiku dengan malas berjalan melewati pekarangan sekolah menuju kelas.Kelas yang paling gaul dan gokil.Haha.Teman-teman yang sayang dan baik padaku.Dan Ibu Guru yang baik hati,namun untuk hal itu aku tidak terlalu yakin.Rambutku terikat rapi ke belakang.Kuncir kuda.Dengan poni tebal yang menutupi keningku.Senyum tak pernah luput dari wajahku,walau hatiku terkadang selalu sedih.Tapi,aku ingin membuat suasana selalu caria.Disitu Ridha,disitu juga ada kebahagiaan.
Kuhempaskan tubuh beserta tas punggungku di bangku.UPS!Berdebu!Aku berdiri,mengambil tisu di dalam tas,lalu mengelap bangkuku dengan cepat,dan bangkuku pun bersih.Nyaman untuk diduduki.
Hmmm..aku menatap sekeliling dengan perlahan.Belum banyak teman-teman yang datang.Baru ada Imel,Caca,Rizka,sama Nesya.Bella belum datang,Bella itu teman sebangkuku.Dia belahan jiwaku!Haha.Enggak,enggak.Just kidding.Bella itu teman dekatku di kelas ini.Ya...walaupun dia kadang menjengkelkan,rese,menimbulkan emosiku,dan kita sering bertengkar,dia tetap teman yang baik.
Aku meninggalkan tasku terduduk di bangku.Dia nggak merengek-rengek tak ingin ditinggalkan.Yaeyalah!Dia itu benda mati.Aku melangkah menuju pintu kelas,berjalan keluar sedikit,memerhatikan sekeliling.Tak ada yang berubah,kecuali...HUWAAA!!Ada dia!Aku langsung berlari menuju kelas.
Tuhan...kenapa aku nggak bisa melupakannya?Ridha,pokoknya kamu harus bisa melupakan Tirta!Dia itu nggak mungkin bisa kamu miliki!Dia itu sudah punya pacar.Kecamkan itu!Kamu harus bisa melihat orang yang kamu cintai itu bahagia,dengan kebahagiaan apa yang ia inginkan,itu barunya mencintai seseorang.Rela berkorban-lah.
Emang,pertama aku masuk ke sekolah ini.Dia cowok pertama yang membuatku terpana,terpesona,gila,kejang-kejang,keringat dingin,dan yang lain-lainnya.Aku mengelus kedua lenganku sambil menggigil dingin saat angin berhembus.Akhir-akhir ini cuaca kurang bersahabat.Langit mendung,sepertinya hujan akan segera turun hujan.
Teng!Teng!Tiba-tiba bel masuk berbunyi dengan nyaringnya.Aku menatap ke arah luar.Mencari-cari wajah Bella.Dan,akhirnya ia muncul sambil berlari menuju arah kelas.Rambutnya yang terurai bergelombang diterpa angin.Tiba-tiba titik-titik air hujan turun.Anak-anak yang masih membawa tas dan berjalan di pekarangan sekolah langsung berlari ke tempat yang teduh.
“Bella!”teriakku saat Bella sampai di kelas lalu duduk di bangkunya.Aku megikutinya dengan duduk disebelahnya.
“Gimana liburannya?”tanya Bella menatapku berbinar-binar.Aku tersenyum.
“Nggak.Nggak menyenangkan.Kamu?”tanyaku balik padanya.
“Biasa aja,sih.”jawab Bella tertawa.
Imel memanggilku pelan.Ya.Imel tak bisa berteriak.Suaranya sangat kecil.Dia juga akrab denganku.Selain Imel,juga ada Caca,dia juga akrab denganku.Pokoknya aku,Bella,Imel,dan Caca itu akrab.
“Bener mau ngelupain Tirta?”tanya Imel pelan.
“Iya.Emangnya bisa?”lanjut Caca mengikut.
Aku mengangguk percaya diri.Memang sudah sepantasnya aku melupakan Tirta,membuang semua tentangnya jauh-jauh ke laut!Nggak mau menyukai dia lagi!Terlalu sakit.
Imel menatap bangku disampingku,jaraknya tidak terlalu jauh.Itu bangku Rio.Sudah lama Imel menyukai Rio.Kasihan Imel,Rio belum datang.
“Besok pasti datang,kok.”ucapku tersenyum menatap Imel.Imel menoleh terkejut,pipinya memerah dengan cepat.
“Apaan,sih..”jawab Imel menutup mukanya sambil menunduk.Lalu kita ber-empat tertawa bersama.Kebahagiaan mengalir diantara kita.Kecuali denganku yang masih berusaha melupakan Tirta.Harus!Dia Cuma bisa jadi sumber penyakit hatiku!Haha.
Les Piano yang Misterius
Aku berjalan malas menaiki anak-anak tangga di gedung tempat les,les piano.Aku harus menaiki tangga menuju kelas piano di lantai dua.Huh!Melelahkan.Tapi,aku disuruh oleh Papa dan Mama untuk ikut les ini.Padahal,aku tak terlalu menyukai.Tapi,kadang-kadang aku juga betah lihat wajah teman satu kelasku yang hebat dan mahir memainkan piano.Dennis namanya.
Langkahku terhenti tepat didepan pintu kelas les piano.Aku membuka pintu perlahan.Masih belum ramai,Bu Hilda pun belum datang.Dengan malas aku berjalan terseok-seok sambil membawa tasku menuju bangkuku,dekat jendela.Tempat favoritku,kalau aku bosan di kelas,aku bisa melihat-lihat di luar jendela.Walau hanya jalan raya biasa.
Aku pun sampai di bangkuku,lalu duduk dengan lemas,lalu menunduk,melepas lelah.
“Ridha,kok malah tidur?”tanya seseorang mencolek-colek lenganku.Suara Tiara,teman akrabku di kelas piano ini.Kalau boleh jujur,aku kurang bersahabat dengan teman-teman di kelas ini,kecuali Tiara.Mereka semua sombong-sombong,apalagi Dennis.Waktu pertama ketemu sama dia.Dia udah sinis banget.Tapi ganteng,sih.Wajahnya bule-bule gitu.He-he.
Aku mendongak malas,menatap Tiara.
“Nggak tidur,Cuma capek doang.”jawabku lemah.Tiara tersenyum.Lalu menarik lengan kiriku dengan kasar.Aku berdiri menatapnya bingung.
“Mau ngapain?”tanyaku bingung mengerutkan dahi.
“Kita ambil minum,yuk!Ada kopi.Maybe,buat kamu nggak ngantuk lagi!”jawabnya semangat menarikku terseret-seret keluar kelas.Aku hampir terjatuh,dan saat di pintu....aku menabrak Dennis yang baru saja datang.Tiara malah bengong merasa tak bersalah.Memang dia tak ikut tabrakan dengan Dennis,tapi..begitulah!
“Kalo jalan,pake matanya.Masih untung kamu dikasih mata sama Tuhan.”ucap Dennis merapikan jaket abu-abunya.Lalu menabrak lenganku saat berjalan masuk.Aku hendak marah,tapi aku harus jaga emosi.Aku hanya meliriknya marah.Lalu aku berjalan lagi ditarik-tarik oleh Tiara.Tiaraaaaa....!!!!!!!!!!
Aku memegang cangkir berisi kopi mocca.Bener,lebih ngerasa enak.Nggak capek dan ngantuk kayak tadi.Lebih rileks.Apalagi setelah dimarahi oleh Dennis menyebalkan itu!Tapi ganteng,aaaarrrggghhh...!!!Tiara masih meneguk kopinya.
“Biasanya Dennis nggak mau ngomong sama orang lain,kecuali Bu Hilda.Tapi tadi kamu diajak ngomong sama dia.Beruntung kamu,Da!Tapi,kenapa tadi kamu diem aja?”tanya Tiara memasang wajah polosnya sambil membetulkan kacamatanya.Aku tersenyum kecut.Menatap cangkir,lalu menatap Tiara.
Yang ada juga gue dimarahin sama Dennis,oon!Bukannya diajak ngomong!Lu,nggak bisa membedakan yang mana marah apa nyapa atau ngajak ngobrol apalah itu,hah?!Dasar,oon!Kelewatan banget!
Aku mengurungkan niat untuk menjawab pertanyaan Tiara yang menyiksa otak dan perasaan juga emosi.Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.Rasanya aku ingin meremas-remas ini anak!!!!Aaaaarrrrggghhh!!!!!
Bu Hilda terus memandangiku.Kelas piano sudah dimulai dari beberapa menit yang lalu.Bodoh!Hari ini ada test not-not balok!Aku lupa menghafal!Mampus aja nanti diomelin habis-habisan sama Miss Hilda.Huh!Ini semua gara-gara Tirta!!
Dan akhirnya ini giliranku.Bu Hilda memanggilku,menyuruhku duduk di bangku dekat piano,lalu mulai menatapku tajam.Keringat dingin mulai keluar.Bercucuran malah.
“Coba,Ridha mainkan lagu yang saya sudah ajarkan hari Sabtu.Ayo mulai.”ujar Bu Hilda.Aduh!Mampus!Sabtu yang lalu aku nggak memperhatikan apa yang Bu Hilda ajarkan.Terlalu susah dan membosankan.Aku menatap Bu Hilda sambil nyengir gugup.Bu Hilda melotot.
“Kenapa?Kamu nggak lupa dengan tugas saya,kan,Ri-dha?!”tanya Bu Hilda mulai marah.Aku nyengir lagi.Lalu mengangguk.
“Sa-..”
“Keluar dari sini sekarang juga!Kamu tunggu di luar sampai pelajaran hari ini selesai!”belum sempat aku memberi alasan,Bu Hilda dengan sadisnya mengusirku.Aku hanya menunduk,berdiri lalu langsung berjalan menuju pintu luar.Tak berniat sama sekali memandang murid-murid di kelas itu.Apalagi Ti-a-ra!
Dengan lemas aku duduk di lantai karpet didepan dinding kelas piano.Aku memeluk kedua lututku erat.Sedih,marah,emosi,kesal,benci,dan semuanya mengumpul di kepalaku.Tirta!Aku benci sama kamu!Tiba-tiba pintu terbuka,aku tak berniat melihat siapa yang keluar.Terdengar seseorang yang keluar itu terduduk lesu,hampir terjatuh.Lalu aku tahu dia juga tak menghafal.Aku hendak mengajak ngobrol,mungkin ini kesempatan pertamaku mempunyai teman di kelas piano selain Tiara oon.Aku menoleh pelan.Dan aku tersentak,hampir terloncat kebelakang,lenganku lepas dari lutut.Mencermati wajah seseorang yang ada disampingku,tidak terlalu jauh.
“Kamu?!”teriakku terkejut tak percaya.
“Ssssshhhhssssstthhhssss!!!”jawab Dennis menyuruhku diam.”Kamu mau dimarahin sama Bu Hilda lagi,hah?!”tanya Dennis berbisik marah,matanya melotot.Aku mendekap mulutku.Lalu terduduk lagi seperti posisi sebelumnya.
“Kamu bukannya paling pintar di kelas piano,ya?”tanyaku berbisik tak menatapnya.Dia menolehku,mencibir.
“Emang aku sempurna apa?Nggak ada manusia yang sempurna.”jawab Dennis berbisik.
“Oooohhh...”jawabku berbisik juga menganggukkan kepala tanda mengerti.Ia menatapku bingung,lalu dengan cepat ia berdiri dan pergi menuju toilet.
Se-jam berlalu.Tunggu satu jam lagi,pelajaran Bu Hilda pun akan selesai.Aku mulai mengantuk menunggu didepan kelas tanpa kegiatan.Lalu tanpa tersadar aku memejamkan mata,tertidur kelelahan.
“Ridha,”tiba-tiba aku mendengar ada suara yang memanggilku dengan lembut,lembut sekali.Namun,aku tak melihat apa-apa.Tak mampu membuka mata,terlalu lelah.Mungkin ini mimpi.Tiba-tiba tak lama setelah suara itu,ada yang menarik kepalaku bersandar di pundak,aku tak tahu pundak siapa,tapi sangat nyaman dan hangat.Lalu aku mendengar suara-suara nyanyian yang begitu pelan,kecil hampir berbisik,dan merdu.Aku sepertinya sudah berada di alam mimpi.
Marvel at the sight of greenfields
Amazingly seen
Watch the colors of the rainbow
It’s a miracle you see
More than all the wonders can be
But there’s more than that
One love..
Nyanyian itu begitu indah di telingaku.Seperti nyanyian malaikat.Aku semakin ternyenyak dalam tidurku.Sekarang ini aku tak ingin terbangun dari mimpi indahku.
“Ridha.Ridha.Bangun,Da!”tiba-tiba aku mendengar suara Tiara,ada yang mencolek-colek lenganku.Lalu dengan malas aku membuka mata.Namun akhirnya mataku terbuka.Melihat wajah Tiara dengan kacamtanya.Aku terbangun tersentak.
“Bu Hilda mana?”tanyaku panik.
“Udah selesai.Yang lain udah pada pulang.Bu Hilda juga.Tadi kamu dibangunin gak bangun-bangun.Pulang,yuk.Udah mau Maghrib,Da.”jawab Tiara duduk menatapku.Aku mengusap keningku.
“Tas aku?”tanyaku.
“Nih,”jawab Tiara menyerahkan tas yang ada di tangan kirinya.Aku tersenyum berterima kasih.Lalu aku menatap ke lantai karpet yang menjadi tempat kepalaku,ada jaket abu-abu tebal terlipat rapi membentuk seperti bantal.Aku mengangkatnya bingung.
“Itu punya kamu?”tanya Tiara.Aku menggeleng.
“Terus?”tanya Tiara.
“Nggak tahu.Apa aku titipin di sini aja,ya?”tanyaku.
“Jangan,mendingan kamu bawa pulang,terus cuci,terus bawa lagi kesini,siapa tahu nanti yang punyanya nyariin.”jawab Tiara.Aku mengangguk saja.Lalu berdiri,memasukkan jaket itu ke dalam tas,lalu berjalan pulang menuju rumah bersama Tiara.Kebetulan rumah kita searah.
Jaket-nya Dennis (ternyata)
Aku berjalan terseok-seok memasuki les piano.Hari Kamis.Tiga kali dalam satu minggu aku les piano,yaitu Rabu,Kamis,dan Sabtu.Tiga hari itu akan menjadi hari-hari yang menyiksakan bagiku.
Aku terhuyung-huyung mendekati bangku sambil menggendong tas.Di dalam tas masih ada jaket abu-abu misterius waktu itu.Aku mengambilnya dari dalam tas,lalu memandanginya sambil tersenyum-senyum,tanpa ragu aku berdiri dengan percaya diri.
“Temen-temen!Ada yang merasa punya jaket ini,nggak?”tanyaku setengah berteriak melirik ke segala arah bergantian.Teman-temanku hanya menggeleng,malah ada yang tak mempedulikanku.
“Ok.”jawabku kecewa terduduk lagi di bangku.Tiba-tiba Dennis yang sepertinya sudah dari tadi berada di ujung pintu menghampiriku.
“Itu punyaku!”ucapnya menunjuk jaket yang ada di tanganku,lalu dengan kasar ia merebut jaketnya ,lalu menuju bangkunya cuek.Ada beberapa cewek yang menatap Dennis bingung.Yang lainnya cuek-cuek saja.Bayangkan!Bagaimana bisa aku betah di kelas yang isinya orang-orang tak bersahabat?Bayangkanlah nasibku!!Aku hanya mengedikkan bahu,lalu tertunduk lemas di meja.
“Ridha!!”tiba-tiba Tiara datang mengejutkanku.Aku menatapnya bingung.
“Lemes lagi,ya?Ayo minum kopi lagi!”teriak Tiara semangat.
“No.No way!Aku dah kenyang minum kopi!”jawabku langsung menolak ajakan Tiara.Tiara duduk di sampingku.
“Gimana jaketnya?Udah ketemu yang punya?”tanya Tiara.Aku mengangguk malas.Tiara terkejut.
“Siapa?Siapa?”tanya Tiara tak sabaran.
“Tuh,orang yang palin pintar di kelas kita.”jawabku berbisik.Mata Tiara melotot hampir keluar.Aku terkejut.
“Beneran?”tanya Tiara berbisik mendekati wajahnya pada wajahku.Aku mengangguk pelan.Dia hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum berbinar-binar.Tiara-Tiara...
Delapan Belas
Semua anak di kelas berjalan kesana kemari.Mereka ada yang semangat,berbinar-binar,sedih,dan senang setengah mati.Aku terduduk lemas menatap selembar kertas putih daftar nilai ulanganku.
“Delapan belas.Fiuh!”ucapku lemas sambil menunduk di meja dengan menggenggam kertas selembar itu.
“Ridha,ranking berapa?”tanya Bella semangat.Aku menatap Bella lemah.
“Delapan belas.”jawabku datar.
“Aku lima,lho!”balas Bella mengangkat tangannya dengan kelima jarinya sambil tersenyum bangga.
“Yah,aku sebelas.”jawab Imel mengikut pembicaraan.
“Empat.”ucap Caca juga.Aku hanya bisa tersenyum kecut,lalu berbalik ke arah depan lagi,menunduk ke meja.Kecewa dan rasa tidak puas.Pasti aku akan kena marah yang tiada habisnya oleh kedua orangtua.Mereka pasti mengharapkanku mendapat ranking pertama.Ralat!Bukan orang tuaku saja.Tapi,semua orangtua menuntut dan mengharapkan anak-anaknya mendapat ranking satu.Hmmm..melelahkan!
Ini pasti ada pengaruhnya juga oleh Tirta.Ya!Jujur saja,kemarin-kemarin aku selalu memikirkannya.Dan itulah yang membuatku tak berkonsentrasi dengan pelajaranku di Sekolah!Dia itu seperti hama!Mengganggu dan mengganggu jalannya pikiranku.Tirta,Tirta.
“Ridha,kenapa?Tirta lagi?”tanya Imel.Aku hanya tersenyum pasrah.
“Ya..begitulah,Mel.Bingung.”jawabku lelah.
“Yang sabar atuh,neng.Nanti juga pikiranmu tentang dia bakalan hilang di kepala.He-he.”ucap Imel dengan logat sunda-nya.Maklum,dia orang Bandung.Aku tersenyum.
“Trims.”ucapku senang.Teman-temanku ternyata perhatian sekali.
Coba saja mereka semua ikut les piano sepertiku.Pasti aku tidak akan kesepian dan suasana disana tidak akan membosankan.Lelah aku berteman dengan semua temanku di tempat les itu.Menyiksa!Apalagi harus dihadapkan dengan Dennis yang angkuh,Tiara yang oon[maaf],Bu Hilda yang galak dan menyebalkan,juga teman-teman lain yang sangat tidak bersahabat,masih ganas,belum bisa dijinakkan.Huh!
Setiap saat aku membayangkan mempunyai tongkat sihir seperti Harry Potter.Aku ingin mengubah semuanya menjadi lebih indah dan menyenangkan.Aku akan mengubah wajah Dennis yang menyebalkan menjadi lebih ceria.Akan kubuat bibirnya selalu tersenyum.Haha.Tiara,aku akan buat dia menjadi pendiam,pintar,lalu asyik.Teman-teman di kelas piano akan kurubah menjadi segerombolan keledai bodoh yang tak bisa lagi angkuh,pamer,dan sombong padaku.Bu Hilda,akan kubuat menjadi Ibu yang lebih baik dan murah senyum.Aku ingin mendatangkan Jonas Brothers di sekolah.Ha-ha.Aku ingin menjadi seseorang yang paling beruntung.Aku akan membuat Tirta menjadi perjaka tua!Ha-ha.Aku sepertinya sangat jahat.
Tak terasa setelah mengkhayal,perasaanku jadi lebih baik.Tak seperti tadi.Hmmm...my life need much magic.Tongkat sihir itu harus kutemukan!
Senyuman Seorang Dennis
Hari ini hari Sabtu,waktunya lagi aku les piano.Sebenarnya aku sangat malas.Tapi kini aku mulai dengan Dennis.Apalagi yang telah dia perbuat padaku dengan jacketnya.Jacket itu hangat dan harum.Aku yakin itu aroma Dennis.Sungguh menyejukkan saat tertidurr di jacketnya.Ternyata,dia peduli juga.Tapi,sikapnya yang angkuh masih tetap ada.
Saat ini aku sedang terduduk di bangku.Sendirian,belum ada yang datang.Aku memang sengaja datang lebih cepat.Aku ingin merasakan sendirian di kelas.Kepalaku bersandar di jendela kelas yang lebar.Udara di luar dingin.Langitnya mendung.Akan turun hujan.Pohon rimbun yang terletak lumayan jauh dari pandanganku bergoyang seperti menari-nari.Jalanan lumayan macet.Mobil-mobil berlalu lalang tiada henti.Di salah satu lampu merah,banyak mobil yang mengantri ada yang rapi,ada yang berantakan barisannya.Banyak pedagang koran yang berlalu lalang kesana kemari mencari uang.
Aku mendengar suara langkah di tangga,lalu menuju ke kelas.Aku menatap pintu kelas yang terbuka.Muncul Dennis dengan sweater biru tuanya yang terlihat sejuk.Ia menggendong tas ransel warna abu-abunya.Dia menunduk,dan sepertinya dia tak melihatku.Aku terus menatapnya.Baru kusadari,ternyata matanya warna coklat tua.Dan alisnya tebal.Dia ternyata tampan juga.
Tiba-tiba dia mendongak menatapku.Wajahnya tersentak sebentar,lalu tiba-tiba seperti aliran listrik yang menjalas di tubuhku.Dia tersenyum.Lesung pipitnya terlihat begitu manis.Hanya sebentar,lalu dia menunduk lagi.Dia telah sampai di bangkunya.Ia menyimpan tasnya rapi.Lalu pergi keluar kelas.
Tuhan,dia tersenyum.Dennis tersenyum!Senyumnya indah sekali.Oh..kurasa aku kini terbius dengan senyumannya.
“Ridhaaaaaa.....!!!!!!!”tiba-tiba aku mendengar suara nyaring Tiara.Aku langsung melenyapkan senyum bahagiaku.Menatap Tiara yang sedang berlari menghampiriku.Aku tersenyum malas.
“Ridha.Coba tebak aku ranking berapa!Ayo!”seru Tiara lompat duduk disampingku.Menggoyang-goyangkan lengan kananku.Aku terkejut.Lalu mencoba berpikir malas.
Tiba-tiba Dennis masuk kembali dengan membawa secangkir minum.Aku tak tahu apa isi cangkirnya.Aku kembali memusatkan pikiranku pada Tiara,ia masih merengek-rengek dengan menggoyang-goyangkan lenganku.
“Nggak tahu.”jawabku.Aku menatap Dennis sekilas.Ia sedang membaca seperti buku folio panjang warna merah.Nggak tahu,deh,apa yang ia baca.Tiara kembali menggoyang-goyangkan lenganku.Aku kembali berpusat pada anak ini.
“Rangking 10,Da!!!” teriak Tiara membuatku tersentak!What?!Aku nggak salah dengar,nih?Tiara yang aku anggap bodoh,oon,menyebalkan,dan selalu membuatku terkejut ini rangkingnya lebih tinggi daripada aku?!Unbelieveble!Somebody help me please!
“Kalau kamu berapa,Da?”tanya Tiara tiba-tiba.Aku mulai keringat dingin.Aku nyengir sebentar.
“Nggak perlu kamu tahu,”jawabku tertawa garing.Tiara bingung.Merengutkan keningnya.Ia menatap kedua mataku tajam.Waduh!
“Hayo...berapa ranking kamu,sih?”tanya Tiara penasaran.Aku menggeleng cepat.Ia semakin penasaran.
“Berapa?Jujur,deh sama aku!”rengek Tiara.
“Nggak penting,Tiaraaa..”jawabku menenangkan.
“Berapa?”tanyaTiara semakin menjengkelkan.
“NGGAK!”jawabku tegas.
“Ridha.Bilang aja.Aku nggak bakal kasih tahu siapa-siapa.”ucap Tiara kembali memaksaku.
“Iya,iya.Karena kamu maksa,aku bakal bilang,”ucapku menunduk lemah,kalah.
“Delapan belas.”ucapku pasrah.Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari arah Dennis,iya.Dia yang terbatuk-batuk.Tangannya menggenggam cangkir.Satu tangannya lagi membekap mulutnya.Aku merengut kesal menatapnya.Lalu berjalan keluar kelas dengan kesal meninggalkan Tiara dan Dennis yang mungkin akan tertawa terbahak-bahak saat aku keluar kelas.
Aku duduk di tangga.Tangan kananku menopang wajahku.Lelah.Memikirkan Tirta,ranking,tertawaan Dennis.Hmm...lelah sekali.
Senyuman yang Lenyap
Aku melirik jam tanganku.Sebentar lagi akan masuk.Aku bangkit dari tangga.Sebelum aku masuk kelas.Aku berinisiatif untuk membawa minum dahulu.Ternyata haus juga.Aku membeli es teh.Hmmm..enak-enak.
Aku melangkah memasuki kelas.Mengitari seisi ruangan.Mulai banyak anak.Sepertinya tadi aku tertidur di tangga.Tidak menyadari mereka datang.Ha-ha.Saat aku masuk dan tepat melangkah di depan bangku Dennis,ada yang menyandung kakiku.Seketika aku terjatuh,aku sempat melayang,lalu terlempar menabrak bangku Dennis.
BRUK!Auw!Seketika aku merasakan memas di perutku.Aduh!Aku tergeletak di bawah bangku Dennis.Untungnya Dennis tidak ada disitu.Tiba-tiba dari atas meja,es tehku mengalir perlahan.Aku tersentak,terbangun sendiri.Tak ada yang membantuku.Namun,tiba-tiba Tiara datangan dari arah luar meneriakkiku,menghampiriku,lalu membantuku berdiri.Aku tergelak saat melihat di meja Dennis.Berantakan dan basah kuyup.Aku melihat buku folio panjang warna merah yang dibaca tadi oleh Dennis sudah basah kuyup.Aku gemetaran,keringat dingin.Bergantian menatap Tiara dan meja Dennis.
“Ridha!”teriak Dennis dari belakang mengejutkanku.Aliran listrik menjalar tubuhku.Keringat dingin semakin bercucuran tak karuan.Aku tak berani menoleh,aku menunduk ketakutan.Aku rasa Dennis sudah memunggungiku.Tiara menjauh dariku,dia ketakutan juga.Tangan Dennis terlihat menggapai buku folio merahnya.Aku semakin gemetaran.
“Hebat juga,kamu.”ucap Dennis terkekeh.Lalu sekejap dia membanting bukunya yang basah kuyup ke atas meja dengan keras dan kesal.Ia menarik bahuku,untuk menatapnya.Dia mencari mataku.Aku tetap menunduk.
“Kamu tahu apa yang telah kamu perbuat pada album musik saya,hah?!”tanyanya marah.Suasana di sekitarku menjadi hening dengan kemarahan Dennis yang menakutkan dan mengerikan.
“Saya bertanya sama kamu!”ucap Dennis menggoyangkan tubuhku.Aku tersentak,lalu menatapnya.
“Maaf,”jawabku.Ia terkekeh lagi.Lalu melepaskanku.Mengambil tas ranselnya.Lalu pergi,membawa buku folionya.Dia sangat marah padaku.
“Auw!”teriakku memegangi perutku.Sakit.Perutku sakit.Seperti terlilit,aku menggerutu pelan dengan kesal.Keringat dingin menjalar di tubuhku.Aku terjatuh ke lantai.Kesakitan,aku memegangi perutku,nyaris mencengkramnya.
“Ridha!”teriak Tiara menghampiriku yang sudah tergeletak.
“Sakit banget..”rintihku menatap Tiara.
“Ridha!Kamu kenapa?”teriak Tiara cemas.Aku hanya dapat memejamkan mata kesakitan.Tiara memegangi lengan kiri dan kananku.Tiba-tiba aku melihat Dennis berlari menghampiriku.Ia menyingkirkan Tiara,lalu mencengkeram kedua lenganku,lalu mengangkatku untuk berdiri.Ia menyimpan tangan kananku di atas lehernya.Lalu membawaku ke suatu tempat.Sepertinya kantor les piano.
Dennis mendudukkanku di sebuah kursi,ternyata bukan kantor,namun dapur kantor les piano.
“Kamu nggak apa-apa,kan?”tanya Dennis cemas.Aku bingung,tadi dia galaknya minta ampun.Sekarang malah baik banget sama aku.Aku terbengong-bengong menatap Dennis yang masih menatapku cemas.
“Woi!”teriak Dennis membuatku tersadar dan membuatku terkejut.Aku terkesiap sebentar.Lalu sakit perut itu menyerangku lagi.Aku kembali mengeluh kesakitan.
“Kamu itu kenapa,sih?Sakit perut?”tanya Dennis bingung.Aku mengangguk pelan.Lalu tiba-tiba Dennis meleos pergi dari hadapanku,hampir berlari.Ia pergi begitu saja.Lalu tak lama sakit perutku mulai mendingan.Tanpa pikir panjang lagi aku pergi menuju kelas,sepertinya sebentar lagi kelas akan masuk.
Aku sampai dikelas.Semua mata tertuju padaku saat kakiku masuk ke kelas piano.Aku kebingungan.Untung Bu Hilda belum datang.Aku menghampiri bangku dengan perlahan-lahan.Terkadang rasa nyeri itu muncul kembali.
KEBAIKAN DENNIS
“Ridha!”teriak seseorang dari depanku,aku langsung mendongak,Dennis.Ia berjalan dari depan kelas sambil membawa secangkir gelas.Ia menghampiriku,lalu menyodorkan cangkir itu,ternyata teh hangat,ia tersenyum.
“Nih,minum biar cepat sembuh,”ujarnya tersenyum lagi.Aku mengambil cangkir itu,begitu hangat.
“Thanks,ya!”jawabku tersenyum,lalu meneguk teh hangat itu,manis.Ia berjalan ke bangku di sampingku,duduk disitu,menghadap ke arahku.Aku jadi gugup,Dennis begitu manis hari ini.
“Gimana?”tanyanya.Aku menoleh.
“Udah agak mendingan,skali lagi thanks,ya.Ini kamu yang buat?”tanyaku.Dennis menggeleng,aku sedikit kecewa.
“Bukan,tadi salah satu OB.Maaf,ya,aku nggak bisa bikin teh,hehe”jawabnya menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir.Aku hanya tertawa kecil,dan bahagia.Dennis begitu baik padaku saat ini.Aku berharap ini akan berlangsung selamanya.
Pelajaran dimulai,aku terasa lebih semangat,apalagi setelah Dennis pindah tempat duduk disampingku.Sesekali ia mengajarkanku beberapa not yang sedang berlangsung.Dan Bu Hilda terlihat lebih baik dan murah senyum.Kurasa,aku mendapatkan tongkat sihir itu.Terimakasih Tuhan!
Tiara,ia juga tersenyum menatap kebahagiaanku,ia akhirnya duduk di belakang Dennis setelah Dennis menempati tempat duduknya.Beberapa cewek di kelas memerhatikan tingkahku dengan Dennis yang mulai akrab.Aku bahagia!
“Kok jadi baik gini?”tanyaku saat waktu jalan bersama dengan Dennis menuruni tangga.Pulang.Ia tersenyum.
“Aku kasihan kamu nggak punya teman,haha”jawabnya tertawa lepas.
“Apa?!Enak aja!Aku punya Tiara,kok!Cuma karen kasihan,ya?”tanyaku sedikit emosi.Langkah Dennis terhenti,aku ikut berhenti,lalu menatapnya bingung.Ia menoleh,tersenyum.
“Aku rasa,kita bisa berteman baik,pulang duluan,ya!Jemputanku sudah menunggu di depan!Bye!”jawab Dennis,lalu berlari menuruni tangga,keluar dan menaiki mobil sedan warna hitam.Enak,ya..punya mobil pribadi,ber-AC pula.Huh!Aku juga mau!
“Bye,”bisikku tersenyum,lalu berjalan menuju pintu keluar,dan mencari angkot pulang.Tiara sudah pulang duluan.
Di rumah,aku dimarahi oleh orangtua,dengan nilai raporku yang jeblok.Aku hanya bisa menunduk menerima semua amarah mereka.Ini memang yang akan aku dapatkan.Namun,aku lebih merasa tenang,setelah sikap Dennis yang tiba-tiba berubah terhadapku.Aku sungguh senang,mudah-mudahan saja besok dia masih duduk di sampingku dengan senyuman dan tawa yang membuat hari-hariku di kelas piano terasa lebih bahagia dan menyenangkan.Ia membuatku tak bisa melupakan dirinya.OH!
to be continued..
hahahaha :))
Minggu, 10 Mei 2009
MY LIFE NEED MUCH MAGIC
Diposting oleh azalea di rmh 5/10/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar