hei hei ini lanjutan My Life Need Much Magic ! hahaha baca yaaa :D maaf klo kurang menarik .
RAGU
Dengan lemas,tanganku menopang wajahku.Kelas,saat jam istirahat menjadi sepi.Namun keadaan di luar kelas pasti ramai.Hari Senin,tak ada les piano.Huh,membosankan.Lho?Haha.Jadi terbalik sekarang.Ridha,Ridha!Ckckckc.
“Kenapa,Da?Kok lesu gitu?Nggak ke kantin?Apa kamu sakit?”tanya Imel yang tiba-tiba muncul dengan Caca,lalu mereka duduk disampingku.Mereka baik,kan?Memang.
“Nggak,Cuma lagi kangen sama seseorang..hehe”jawabku nyengir.Mengingat Dennis.
“Ciee..siapa tuh?Udah nggak mikirin Tirta,nih?”tanya Imel menyikutku.Sepertinya wajahku memanas.Namun,setelah mendengar nama Tirta,aku langsung lesu lagi.
“Jujur,aku masih suka sama Tirta,tapi percuma aja.Paling ntar juga udah lupa lagi.Hehe,”jawabku pasrah,lalu tersenyum.
“Bagus,deh!Gitu dong,Da!Senyum!Jangan merengut mulu!Oke?”tanya Caca ikut nimbrung.Kita pun tertawa bersama.Beruntung aku masih memiliki teman seperti mereka!Tuhan,terimakasih!
“Eh,kalo misalnya kita suka sama dua orang,nggak apa-apa gitu?”tanyaku.Imel dan Caca saling berpandangan,lalu menggeleng.
“Jadi?Selain Tirta,siapa yang kamu suka?”tanya Imel semangat.Caca juga mengangguk menunggu jawaban.Aku menyerah.
“Dennis,”jawabku lemas lalu tersenyum.Imel dan Caca saling berpandangan lagi,mereka memang kompak.
“D-dennis?Siapa,tuh?”tanya Caca.
“Temen les aku!”jawabku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Cie…ciee…yang lagi kasmaran,nih!”teriak mereka berdua,lalu kita berdua tertawa.
Siang harinya,seperti biasa,aku pulang dengan Sasa,sahabat paling dekat denganku.Ia cantik,dan ceria sepertiku,dia selalu ada untukku.Dan untungnya dari SD sampai SMA sekarang,sekolah kita selalu sama.Kita pulang menaiki angkutan umum.
“Da,aku perhatikan kamu kok kayaknya senyum terus daritadi,kenapa nih?”tanya Sasa membuyarkan lamunanku tentang Dennis.Aku tersenyum malu.
“Aku mau cerita,tapi ntar aja kalo udah sampe di rumah aku,jadi kan main ke rumah?”tanyaku.
“Iya,oke deh!”jawab Sasa.Angkutan umum ini masih terdiam menunggu penumpang yang lain,maklum di dalamnya hanya ada kita berdua.Tiba-tiba ada segerombolan anak SMA kelas 3,dari sekolah kita berdua.Mereka kakak kelas kita,kira-kira ada 5-6 orang.Mereka berseruduk memasuki angkutan umum ini,lalu akhrinya penuh,dan kita terjebak di tengah-tengah mereka.Mereka tertawa bersama,bercanda tentang apapun,dan ada yang membuat aku terkejut,Tirta..
“Gimana lo sama Mita?”tanya salah seorang temannya pada Tirta,yaaa bisa dibilang aku menguping,mungkin Sasa juga,karena ia pasti mengenali sosok Tirta yang diujung angkutan dengan tas selempang biru,ia tampak begitu tampan dalam jarak yang dekat.Tuhan!
“Bingung gue,kadang dia baik,kadang nyebelin juga!Jadinya males..”keluh Tirta.Aku tiba-tiba tersenyum tipis.Lho?
“Anak SMA 3 juga,kan?”tiba-tiba salah satu kakak kelas bermata sipit dan wajahnya lucu,menoleh padaku.Yang lain langsung terpaku menatap kita berdua.Oh!Aku nyengir,begitu juga Sasa.
“Iya,kak”jawabku polos.
“Kelas berapa,dek?”tanyanya lagi.
“Kalo saya IPA-1,kalo temen saya ini IPS-1,”jawabku gugup,Sasa mengangguk.Kakak kelas itu hanya mengangguk tersenyum lalu menyodorkan tangannya.
“Adit,IPA-3.”ucapnya.Lalu aku menyambut tangannya.
“Ridha,”jawabku tersenyum.Lalu Sasa juga disalaminya,dan akhirnya semuanya jadi berkenalan dengan kita.Ada kak Ardi,Nirwan,Rangga,Alex,lalu yang terakhir..
“Tirta,”ucapnya tersenyum padaku sambil menyodorkan tangan.Aku gemetar,lalu mencoba sekuat tenaga menyambut tangannya setulus mungkin.
“R-ridha..”jawabku gugup.Lalu Tirta tersenyum.
“Salam kenal ya dek!”balas Tirta.Lalu perjalanan kembali sunyi setelah perkenalan yang panjang itu.Lalu akhirnya kita sampai di rumahku.Kakak kelas itu mengucapkan salam perpisahan.
“Dadaaaahhh Sasa,Ridhaaaa!”teriak mereka bersamaan,aku dan Sasa tertawa.
“Nggak nyangka ternyata mereka baik,nggak seperti yang kita pikir!Hahahaha!”seru kita saat berjalan memasuki halaman rumahku.
Sasa terduduk di hadapanku sambil memangku bantal biruku,kita berada di kamarku.Kita akan saling curhat.Aku jadi malu untuk menceritakan Dennis.
“Dennis?Siapa,Da?Tirta gimana?Tadi tangannya wangi nggak?”tanya Sasa terkekeh,aku menyikutnya.
“Serius dong,Sa!Aku tuh sekarang suka sama si Dennis itu!Gimana dong?”tanyaku marah.Sasa terdiam,dia berpikir.
“Ya,gak apa-apalah!Kamu suka sama orang ya wajarlah..”jawab Sasa mencoba bijak.
“Masalahnya,aku masih sedikit suka sama Tirtaaa!”teriakku langsung menutup mulut,takutnya keluargaku ada yang dengar.
“What?Tapi,Cuma sedikit kan?Ya nggak papa-lah!Jalanin aja dulu!Si Dennisnya nunjukkin kalo dia suka sama kamu juga nggak?”tanya Sasa lagi.Aku terdiam.
“Awalnya dia cuek banget sama aku,Sa..tapi akhir-akhir ini dia tuh baiiiiikkk…banget sama aku!Pokoknya perhatian banget,deh!”jawabku belepotan.Sasa terkekeh.
Sorenya,sehabis latihan basket di sekolah.Aku berjalan sendiri mencari angkot.Sasa sudah pulang,ia dijemput kakaknya.Jadi sepi jalan sendirian,yang lain semuanya pada ada urusan,ada yang ke warnet,mall,malah ada yang betah latihan sendiri di sekolah.Ckckckc.Saat akan menyeberang,tiba-tiba motor bebek hitam menghadangku.Aku terkejut.Orang yang mengendarainya cukup tinggi,namun wajahnya tertutup helm.Saat akan marah,orang itu membuka helmnya dan ternyata…
“Hah?Dennis?!”tanyaku terkejut,Dennis hanya tersenyum,lalu meminggirkan motornya dan mengisyaratkan aku untuk mengikutinya.Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.Setelah itu Dennis memarkirkan motornya,menyimpan helmnya lalu menoleh padaku,dia menyender di motornya sambil membawa tas punggung warna hitam.
“Ngapain kamu jam segini masih di jalan?”tanya Dennis aneh.
“Habis latihan basket.Kamu sendiri ngapain?” tanyaku,lalu ikut menyender di motornya,berdiri disampingnya.
“Habis latihan juga,tapi tennis lapangan.Hehe”jawabnya tersenyum.
“Ohh..”jawabku.Lalu suasana hening.Tiba-tiba ia bergerak mengambil helmnya,sepertinya hendak pergi.
“Aku anter pulang,deh.Mau nggak?”tanyanya.Aku terbelalak.Tapi,gimana nanti kalo Papa atau Mama lihat aku sama cowok.Aduh!Tapi,untung juga nggak perlu keluar ongkos.Ikut aja deh!
“Nggak perlu bayar uang ongkos,kan?”tanyaku.Dennis tertawa,aduh bodohnya aku!
“Ya!Udah buruan naik,aku masih ada les privat di rumah.Nih,helmnya.”ucap Dennis menyodorkan helm batoknya padaku,aku memakainya,lalu naik ke motor Dennis,lalu ia menyalakan motornya dan melajukannya di jalan raya.Aku tak berani berpegangan,namun ia menyuruhku agar tidak jatuh.Dan benar saja,ia mengebut.Hampir membuatku jantung-an.Lho?Emang aku punya penyakit jantung?Haha!
Di perjalanan aku senyum-senyum sendiri dengan suasana ini.Aku dibonceng Dennis!Apa kata Tiara nanti,ya?Hahaha.Tiba-tiba motor Dennis berhenti di lampu lalu lintas.Kakinya langsung turun menahan motornya.Dia begitu cekatan.Dennis menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya.Wajahku memerah.Lalu secepat mungkin ia melepaskannya,dan kembali pada kemudi.Melajukan motornya lagi.Ohh…
Lima belas menit di perjalanan,akhirnya aku sampai juga di rumah.Sebenarnya berhenti di tikungan,Dennis memutar motornya,lalu aku turun,menyerahkan helm,dan mengucapkan terima kasih.Lalu berpamitan.Dennis dengan cepat melajukan lagi motornya.Dan aku berjalan menuju rumah.Senangnyaaaa!!!!
Saat akan memasuki rumah,aku melihat taksi di depan garasi rumah,lalu Mama dan Papa keluar sambil menarik dua koper besar.Aku berlari mendekati mereka.
“Lho?Mau pergi kemana?”tanyaku terkejut.
“Mama sama Papa mau ke Bandung,tante Lisa mau melahirkan.Kita diminta kesana untuk ngumpul sama keluarga yang lain,sayang,”jelas Mama.Aku merengut.
“Aku nggak diajak?”tanyaku lesu.Papa mendekatiku lalu merangkulku.
“Kita Cuma 4 hari di Bandung,lagian kamu kan harus sekolah.Kalo libur pasti Papa ajak,nanti deh,kita lebaran ke Bandung sama-sama,mau nggak?”tanya Papa.Aku mengangguk.Lalu mereka memeluk ku erat,dan pergi menaiki taksi menuju bandara.Aku menatap mereka dari belakang taksi bersama tante Irma.Kita melambaikan tangan,lalu tante Irma mengajakku masuk ke dalam rumah.
Ilo menarik celana biru rumahku,ia mengajakku untuk membeli es krim di luar.Aku mengelak malas,aku lagi banyak tugas,namun bocah botak kecil ini memaksaku.Dan hebatnya ia bisa menarikku sampai ke garasi.
“Kak!Itu tukang es-nya!Ntar keburu pegi!Buruan!”teriak Ilo di bawah pundakku.Aku menyerah dengan kesal.Lalu membelikannya es krim coklat,ia begitu riang saat aku belikan es krim.Penderitaanku belum selesai,ia mengajakku bermain dengannya.
“Ilo adek Kak Ridha sayaaang,kakak lagi banyak tugas,main sama Andre aja,ya?”bujukku mengelus kepalanya yang botak.Ia tiba-tiba menangis,aku memeluknya berusaha menenangkannya.
“Nggak!Selama Papa sama Mama pergi,kak Ridha harus nemenin Ilo maen di rumah!”teriak Ilo di telingaku.Aku kasihan juga.Dan akhirnya aku menemaninya menonton film kartun.Ohh!
Saat menemani Ilo,tiba-tiba handphoneku berdering.Nomor tidak dikenal,dengan ragu aku mengangkatnya,lalu menjauh dari Ilo.
“Halo?”tanyaku.Tak ada jawaban,lumayan lama.
“Halo?!Siapa ini?”tanyaku sedikit emosi.
“Dennis,”jawabnya datar.Suara yang familier!Dennis pangeranku!
“Oh,a-ada apa,ya?”tanyaku gemetaran memegang handphone.
“Mm-mm..nggak apa-apa,Cuma mau memastikan ini nomor kamu apa bukan.Takutnya Tiara bohong sama aku.Nggak apa-apa,kan?”tanya Dennis.
“Tiara?Jadi?”tanyaku terkejut.Tiara?Kok bisa?
“Iya,dia tetangga aku,kamu nggak tahu ya?”tanya Dennis.Aku terdiam sebentar.Lalu mengerti.
“Oh,”jawabku seadanya.Dennis juga terdiam.
“Eh,besok kan minggu.Mau pergi kemana?”tanya Dennis.Tumben Dennis cerewetnya kayak gini.Aku jadi aneh,jangan-jangan dia punya dua kepribadian.Hahahaha.Aku sih kalau minggu biasanya main ke rumah Sasa.Atau dia yang main ke rumahku.
“Kayaknya dirumah aja,jagain adek,”jawabku berbohong.Kan Ilo masih bisa dijaga sama tante Irma.Hehe.
“Kamu punya adek?Umur berapa?”tanya Dennis mulai cerewet dan ngotot.
“Iya,namanya Ilo,baru 4,5 tahun.Bulan Juli nanti 5 tahun,deh.”jawabku terkekeh.Dennis tertawa merdu.
“Bisa nggak besok kamu nonton aku lomba tennis di GOR 75?”tanya Dennis.Aku bingung,Ilo bagaimana?Aku sih mau saja nonton dia lomba.Tapi…
“Kalau nggak ajak aja adik kamu sekalian,ntar pulangnya aku antar,deh.Gimana?”tanya Dennis semangat.Betul juga.Sekalian biar Ilo jalan-jalan.Nggak apa-apalah.
“Oke,deh.Nanti kalau misalnya batal,aku bakal telfon kamu.”jawabku tersenyum.
“Aku harap kamu bisa datang.Bye,”balasnya lalu memutuskan telfonnya.Ya,walaupun singkat,tapi aku senang dia mengundangku secara langsung.Aku menatap Ilo yang juga menatapku dengan tampang bingung.Aku memeluknya erat.
“Besok ikut kakak,ya,kita jalan-jalan!”ucapku melepaskan pelukanku lalu mencubit pipinya.Ia jingkrak-jingkrak kegirangan.Aku tersentak mengingat tugas sekolah.Aku langsung lari ke kamar.Dan Ilo mengintil dari belakang.Bocah ini !
MENONTON
Tante Irma terus tak mengijinkanku dan Ilo menonton perlombaan Dennis.Ia tak menjamin aku bisa menjaga Ilo baik-baik.Takut Ilo kenapa-kenapa katanya.Aku sudah memelas,memohon,sampai emosi pada tante Irma.Sedangkan Ilo sedang bermain di teras bersama Andre,keponakanku.Aku juga sudah jadi tante ternyata.
“Please,ya,tante Irma..aku udah hampir terlambat.Nggak enak udah ditungguin sama temen.Ilo bakal aku jaga super esktra,deh!”ucapku memelas sambil mengangkat dua jariku.Tante Irma menatapku tajam,lalu matanya tenang dan teduh.
“Kamu sih gak ngomongin kemarin,jadinya gini ,kan ?”tanya Tante Irma.
“A-aku .. “ aku tak bisa berkata-kata sambil menunduk,mau nangis.Beneran!
“Pulang jam berapa?”tanya Tante Irma.Aku langsung loncat memeluk dirinya.Aku sungguh bahagia.
“Sebelum jam 6 kok!Tante tenang aja!Ini juga sekalian Ilo nggak bosen di rumah terus-terusan!Thanks,ya,tante!”jawabku tersenyum ceria memamerkan gigiku sambil menatap Tante Irma berbinar-binar.
“Ya,sudah.Hati-hati,ya!Jaga Ilo baik-baik!”jawab Tante Irma.Lalu mengantarkanku dan Ilo ke depan untuk naik taksi.Nggak apa-apalah mahal sedikit.Demi Ilo juga Dennis.Sebentar lagi sudah hampir jam 1,pertandingan segera dimulai!Aku tak mau terlambat.
Untung saja taksinya ngebut.Aku dan Ilo sampai di tempat dengan waktu yang tepat.Cukup ramai.Aku tak melihat Dennis dimana-mana.Ilo memakai kaos biru bergambar mickey mouse dan celana pendek.Lucu sekali.Sedangkan aku memakai kaos putih dan celana jins abu-abu,simple aja.Rambutku terurai cantik,menurutku.Tas selempang kecil tersangkut di pundakku.Aku menggandeng tangan kecil Ilo,ia seperti anakku saja!Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.Aku berbalik,Dennis tentu saja.
“Hei,”sapaku tersenyum.Ilo merapat padaku.
“Hei,mmm..kau tampak cantik,”jawabnya tersenyum malu.Wajahku memanas,Ilo tertawa.Dennis langsung menggapai tangan Ilo,tersenyum melihatnya.Ilo balas tersenyum.
“Aku Dennis,”ucap Dennis menunduk menatap Ilo.
“Ilo,”jawabku.Ilo tak mau bicara,ia malu.Dennis tertawa,lalu kembali menatapku.
“Ayo aku antarkan ke tempat duduk VIP,khusus untuk kalian,”ucapnya menarik tanganku mengikutinya.Ilo masih dalam genggamanku.VIP?Aku hampir melongo.
“Duduk tenang disini,ya.Aku akan segera bersiap-siap,”ucapnya tersenyum.Aku melihat handband merah di tangan kanannya.Ia tampak tampan.Sungguh.Lalu ia berlalu sambil berlari ke arah yang ku tak tahu.Aku duduk tenang di tempat duduk paling depan.Karena Dennis,Ilo merengek padaku meminta snack.Aku membuka tas selempangku lalu memberikannya coklat.Tadi kita sempat ke warung dulu sebelum memasuki GOR.Di sekitarku begitu mulai ramai.Ada anak SMA sepertiku,banyak sekali.Ada Ibu-ibu dan Bapak-bapak.Banyak juga anak kecil.Semuanya tampak bersemangat menonton pertandingan ini.Tiba-tiba dari arah belakang aku mendengar dua cewek membicarakan Dennis.
“Tau gak?Tadi Dennis nganterin cewek gitu,siapa ya cewek itu?Mudah-mudahan sih bukan ceweknya,ya..”bisiknya,masih terdengar sebenarnya.Aku hanya tersenyum kecut.
Aku merasakan getaran pada tas selempangku,ponselku berbunyi.Aku merogoh dan mengangkatnya.
“Halo?” sapaku datar.
“Ridha!Nonton gak bilang-bilang!”teriak Sasa memekakkan telingaku.Oh,Tuhan!Aku lupa tak memberitahunya.Iya juga,aku bias mengajaknya.Tapi,bagaimana kalau dia suka juga dengan Dennis ?Lho?
“Maaf,deh.Aku lupa,kalo mau datang saja kemari,”jawabku lemah.
“Nggak,deh.Aku mau pergi sama Mama,tadinya aku mau ngajak kamu.Eh,malah udah ada acara.Lain kali aja mungkin,ya!Daahhh…”jawab Sasa mematikan ponselnya.Aku hanya terdiam lalu memasukkan ponsel ke dalam tas lagi.Dan sepertinya pertandingan akan segera dimulai.Dari arah kiri aku melihat Dennis melambaikan raket tennisnya yang besar sambil tersenyum.Aku membalasnya dengan lambaian tangan dan tersenyum juga.Sedangkan Ilo masih sibuk melahap snacknya.Sesekali aku mengelap mulutnya yang belepotan.Aku sudah seperti Ibunya saja.
Pukulan pertama Dennis begitu hebat dan mulus,satu skor untuknya.Semua langsung bertepuk tangan.Dennis tampak tampan dan hebat.Lalu ia memukul lagi,kini beda,lawannya yang laki-laki juga memukul dengan sangat keras.Dan mengenai wajah Dennis.Semua langsung teriak,aku terlonjak berdiri menutup wajahku.Aku melihat dari celah jariku,Dennis tersungkur,lalu berdiri lagi.Menatapku lalu tersenyum,aku teruduk lagi sambil tersenyum tenang.Orang di sekitarku langsung memperhatikanku.Kurasa wajahku memanas.
Di akhir pertandingan,Dennis tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.Ia menang,ia juaranya!Aku tersenyum melihatnya.Semua orang berdiri sambil bertepuk tangan.Aku menarik tangan Ilo lalu berlari ke bawah menghampiri Dennis dengan perasaan bangga.
“Hei!”teriakku tersenyum.Dennis menoleh.
“Hei,kau lihat?”Tanya Dennis tersenyum sombong.Aku menatapnya aneh,lalu kita tertawa berdua.Ilo terus menempel padaku.Tiba-tiba ada yang datang dari belakang Dennis,cowok yang tadi memukul wajah Dennis.Aku sedikit marah padanya.Ia menyapa Dennis,lalu mereka seperti tertawa.Kok mereka akrab?
“Ridha,kenalin ini teman satu sekolahku,Rezqa.”ucap Dennis padaku.Aku tersenyum lalu menyalami tangan cowok itu yang ku ketahui kini bernama Rezqa,ia tersenyum.Tanganny begitu dingin.Ia juga tampan,tapi mukanya sedikit menyeramkan seperti muka Dennis waktu dahulu.
“Apa ini adikmu?”Tanya Rezqa jongkok menatap Ilo sambil tersenyum.Ilo membenamkan wajahnya di balik tas selempangku.Kita bertiga tertawa melihatnya.
“Lucu dia,”ucap Rezqa mengelus pundak Ilo sambil tersenyum.Kok senyuman Rezqa kayak gitu,ya?Manis.Oh!
Dennis berdiri disampingku,”Ayo,pulang,”ajak Dennis.Aku tersenyum,lalu menggenggam tangan Ilo,pamit pada Andre.Lalu berjalan keluar.Aku mengikuti Dennis dari belakang.Dennis masih memegang raket tennisnya.Aku bingung.
“Nis,nggak ganti baju dulu?”tanyaku menghentikan langkah.Dennis menoleh,lalu tertawa dan mengusap keningnya.Lalu permisi untuk mengganti pakaian.Aku bersama Ilo menunggu di dekat motor Dennis.
BAKSO
Dennis menghentikan motor bebek hitamnya dipinggir tenda bakso pinggir jalan tak jauh dari GOR tadi.Aku menatap punggung Dennis bingung.Kok berhenti disini?Dennis sudah turun sambil mendekap Ilo yang tadi duduk didepan.Aku ikut turun.Dennis tampak begitu tinggi,memang kenyataannya begitu.Ia seperti ayah,dan Ilo anaknya.Ha ha.Aku menghayal lagi.
“Nggak apa kan aku ajak kalian makan dulu?”tanya Dennis menatapku.Kini kita duduk berjejer.Ilo di tengah.Tenda bakso ini belum terlalu ramai mungkin baru ada beberapa pelanggan.Aku kikuk.
“Nggak,kebetulan lagi laper juga.”jawabku tersenyum.Lalu kita memesan masing-masing,kecuali Ilo,aku memesankannya satu mangkuk bakso kecil saja.Ia tampak senang berada disini.Dennis pun mulai bercanda dengan Ilo.Aku melihatnya begitu senang juga takut.Lho?
“Kamu nggak seneng,ya?”tanya Dennis.Aku terkejut.
“Seneng,kok.Cuma sedikit gak enak badan aja,”jawabku.Memang kepalaku kini sedikit pusing.Dennis langsung mencemaskan keadaanku.Aku menjawabnya dengan senyum dan bilang tak ada apa-apa,aku baik-baik saja.Lalu pesanan datang dan kita makan bersama.Sesekali aku menyuapi Ilo dan tertawa bersama adikku juga temanku,Dennis.Well,sungguh menyenangkan.Namun,rasa pusing di kepalaku sepertinya mulai parah.Tapi,aku biarkan sajalah.
Tepat pukul tiga sore,aku sampai di rumah.Dennis sudah pergi lagi dengan senyum,juga perhatian,ia menyuruhku langsung istirahat karena aku bilang tadi kurang enak badan.Sedangkan tante Irma heran mengapa aku cepat sekali pulang.Aneh.Ilo langsung menghampiri Andre untuk bermain.Aku langsung masuk kamar untuk berganti pakaian,setelah itu rencananya aku mau menonton TV.Namun,kepalaku pusingnya minta ampun.Aku langsung membaringkan tubuhku dengan lemas.Meremas kepalaku rasa pusing itu.Tante Irma mengetuk pintu kamarku sambil memanggil namaku.Aku hanya bilang masuk,dan tante Irma menemukan mukaku pucat dan berkeringat dingin.
SAKIT
Aku membuka mata perlahan.Pandangan masih buram,lalu tak lama aku melihat langit-langit kamarku.Aku merasa wajahku dingin bagian kening,aku meraba,ada handuk kecil.Ya,aku sakit sekarang.Tak ada siapa-siapa disampingku,tak seperti di film-film,ada lelaki yang menunggu seorang cewek yang sedang sakit.Aku tertawa kecil renyah.Ngarep,deh!Tiba-tiba aku tante Irma masuk ke kamarku,ia membawa sebuah mangkuk putih kecil.Oh,tidak!Bubur,ueekkk!
“Tante udah telfon sekolah kamu,bilang kamu sakit.Nah,sekarang makan dulu,ya.Biar perut kamu gak kosong.”ucap Tante Irma.Aku merindukan mama.Aku duduk diatas kasurku.
“Tante udah telfon Mama?”tanyaku.
“Tante udah coba telfon,tapi gak diangkat.Sepertinya mama lagi sibuk,”jawab Tante Irma.Perasaanku langsung sedih.Mama pun tak tahu kalau anaknya lagi sakit.Apalagi Papa,kan mereka bersama.Padahal Papa kan dokter.Lalu dengan pasrah aku mengambil mangkuk itu dan memakan bubur tawar itu dengan perasaan ragu namun mau,maksudnya?Walaupun rasanya tak ada,aku tetap menelannya.Sedih.
Siangnya aku sudah mulai mendingan.Dugaanku gara-gara aku makan bakso terlalu banyak pakai sambal.Atau bisa saja bakso ada racunnya.Masa,sih?Sudahlah,aku sudah mulai enakan kok.Paling besok bisa ke sekolah lagi.Tak perlu sampai beberapa hari di rumah.Ya sedikit membosankan.Aneh ya.Waktu di sekolah inginnya cepat pulang,malah tak ingin sekolah.Tapi,waktu di rumah inginnya cepat-cepat ke sekolah lagi.Ada-ada saja dan aku salah satunya.Aku duduk di sofa sambil menonton TV.Ilo dan Andre bergelung memainkan mobil-mobilannya di bawah kakiku.Mereka berisik,tapi tak apa.Aku memperhatikan TV dengan sedikit konsentrasi.Aku malah memikirkan Dennis.Lho?Tak tahu,aku sedikit kangen padanya.Ha ha ha.Apalagi setelah sikapnya yang berubah drastis dan secepat ini.Aku kira setelah bunuh-membunuh,ia baru mau berteman denganku.Se-sadis itu kah?Tiba-tiba ponselku yang berada di saku celana bergetar,aku langsung mengangkatnya.Sasa,ia menanyakan masalah sakitku.
“Aku tanya Imel katanya kamu sakit,kok bisa?Sepi tahu gak ada kamu!Apalagi tadi Tirta nanyain kamu!”seru Sasa di dalam ponsel.Heu?Tirta?Apalagi ini?Kenapa sih Sasa masih membicarakan Tirta.Namun aku penasaran juga.
“Nanya apa?Kok bisa?”tanyaku datar,sebenarnya penasaran dan menggebu dalam hati.
“Ya,tadi di kantin aku ketemu sama dia juga temen-temennya yang waktu di angkot.Dia tanya sama aku kenapa sendirian gak sama kamu,gitu,”jawab Sasa secara detail.Bibirku bergerak sedikit tersenyum.Aku akui senang juga diatanya sama Tirta.Lalu Sasa bercerita tentang di sekolah tadi,ada cowok yang menyatakan cinta padanya,ia dapat nilai bagus,dan hal-hal lainnya.Aku hanya tertawa saat mendengar ia jatuh di tangga saat buru-buru naik karena hampir telat masuk kelas.Sasa punya seribu cerita yang membuatku tak bosan lagi.Terimakasih sahabat.
Malamnya aku berbaring di kasur.Pusing itu datang lagi.Tante menyuruhku istirahat lagi,padahal aku mau menonton acara TV kesayanganku.Tapi tante melarangku.Ilo tiba-tiba menghampiriku lalu bergelung disampingku,memelukku walau tangannya tak cukup.Ia tampak imut dan lucu.
“Ayo bikinin Ilo kapal telbang lagi,”ucap Ilo manja.
“Ntar aja ya,kakak lagi pusing.Oke?”tanyaku menatapnya.Ilo mengangguk.Tiba-tiba tante Irma masuk sambil membawa gagang telfon rumah.Aku langsung duduk di kasur,sedangkan Ilo berlari turun keluar kamar.Dia lincah sekali.
“Ini,Mama mau bicara,”ucap Tante Irma.Aku tersenyum lalu mengambil gagang telfon itu dengan cepat.Mama malah memarahiku,walau aku tahu ia cemas.Namun aku berharap Mama akan memanjakanku.Aku salah.
“Iya,Ma.Aku gak bakal makan sembarangan lagi,”jawabku lemah.Tante Irma duduk disampingku menunggu.Lalu setelah jawaban Mama,aku menyerahkan telfon itu pada Tante Irma,aku bilang aku lelah,kepalaku pusing lagi,dan meminta Tante Irma saja yang berbicara pada Mama.Aku membenamkan wajahku dengan guling,menangis.MY LIFE NEED MUCH MAGIC!!
KEJUTAN
Aku berdiri disamping Sasa,kita sedang berada di kantin setelah kesembuhanku.Kami sedang berteriak sambil menunjukkan uang.Begitu sesak dan panas.Ibu dan Bapak Guru yang menjaga kantin masih cuek pada kami yang lapar dan haus.Namun tetap berusaha dan bersikeras.Tiba-tiba ada tangan panjang dan putih diatas kepalaku.Ia berbicara begitu keras namun merdu,meminta satu teh kotak pada salah satu Ibu Guru.Lalu setelah mendapat minumannya tangan itu lenyap juga suaranya.Aku langsung berkonsentrasi lagi pada jajananku yang belum juga di perdulikan.
“Dek,ambil ini aja,”tiba-tiba ada suara di belakangku dan ada tangan yang menepuk pundakku.Aku berbalik,juga Sasa,karena suaranya besar.Tirta?!Aku langsung gelagapan.Menunduk lemah.
“Nggak apa-apa,saya juga kayaknya gak butuh minuman ini,”ucapnya lagi membujukku.Sasa menyikutku,mengiyakan.Aku tersenyum malu lalu mengambil teh kotak itu dengan ragu dan tanganku bergetaran.
“Makasih,kak”ucapku menatap Tirta,sedangkan ia hanya mengangguk tersenyum manis sekali lalu pergi keluar kantin bersama teman-temannya yang lain.Sasa langsung menggodaku dengan teriakannya.
“Cie cie cie….”ucap Sasa tersenyum jahil.Aku menatapnya tajam,menyuruhnya diam.Wajahku memanas sepertinya.Tirta membelikanku minum!Kurasa lututku lemas.Dennis?
LOMBA NYANYI
Setelah dari kantin,Sasa berpamitan pergi ke kelasnya.Kita kan beda kelas.Aku masuk kelas menenteng teh kotak dari Tirta,dan roti coklat.Di mejanya Fadel,ketua kelasku ada ribut-ribut.Hampir semua teman kelasku mengerubungi mejanya.Aku mendelik heran,lalu ikut nimbrung disitu.
“Ada apa,sih?”tanyaku pada Sandy,teman cowok yang paling lincah di kelas.
“Itu,ada lomba nyanyi dalam rangka perpisahan beberapa guru.Bu Ratna(wali kelas)udah nentuin 2 orang yang harus ikut lomba ini,”jawab Sandy.
“Oh,dipaksa gitu?”tanyaku lagi menggigit roti coklatku.
“Iya,sabar ya,Da!”jawab Sandy tersenyum menepuk pundakku.Apa?Maksud dia?Hah?!!Aku langsung menerobos kerumpulan teman-temanku.Menatap Fadel tajam.
“Saya juga?!”tanyaku marah.Fadel terkejut melihatku.Ia memperbaiki kacamatanya yang melorot.Lalu mengangguk,dan memberikanku selembar kertas.Apaan nih?Aku membaca dengan jelas.Hah?Lagu bahasa Inggris?Waduh!Emang sih aku suka sama bahasa Inggris,tapi kalau untuk menyanyikan di depan seribu murid SMA 3 gak akan aku terima!Apalagi kalau Tirta sampai menontonku.Apalagi ini lagu zaman dulu.Jadul,deh!Aku berlari ke bangkuku.Menyimpan segala jajanan.Bella menghampiriku dari kerumunan di meja Fadel.
“Mau ikut?Suara kamu kan cempreng,”ucap Bella tersenyum remeh.Ia mulai menyebalkan sekarang.Aku sedikit kesal.
“Apa,sih?!”tanyaku marah.Lalu membuang muka,konsentrasi pada lomba nyanyi.Apalagi yang ku dengar-dengar lomba itu akan diadakan minggu depan.Apa bisa aku bernyanyi tanpa gugup,atau mungkin tersandung kabel michropone?Tiba-tiba suaraku tercekat?Dan yang paling parah kalau salah lirik dan Tirta tertawa melihatnya.Aku menutup wajahku dengan lembaran kertas itu.Atau mungkin malah aku mendapat keberuntungan dan semua murid akan mengenalku dengan suaraku dan bahasa Inggrisku yang fasih?Berjuang Ridha!Its show time!
“Bu,nggak bisa diganti ya lagunya?Saya punya lagu lain yang cocok sama saya,”ucapku memelas pada Bu Ratna.Ia menatapku bingung.
“Lagu apa itu?”tanya Bu Ratna akhirnya.Aku bernapas lega.
“Ini,Bu,”ucapku menunjukkan selembar kertas lain berisi lirik lagunya Taylor Swift-Love Story.Lagu favoritku saat ini.Bu Ratna terdiam sebentar lalu mengiyakan permohonanku.Aku rasanya ingin memeluk Bu Ratna!Ha ha.
“Dan Ibu sudah siapkan Juna sebagai pengiring musiknya,dia kan pintar bermain musik,”ucap Bu Ratna lagi.Seandainya Dennis yang mengiringiku.
“Tapi,kamu bisa bawa pengiring orang lain,”ucap Bu Ratna lagi.Aku berbinar-binar.
“Bukan dari sekolah ini nggak apa-apa,Bu?Misalnya sepupu atau saudara saya lainnya,”tanyaku memasang wajah berharap.
“Boleh,”jawab Bu Ratna mengiyakan.Bu!Baik deh!
LATIHAN
Aku menelfon Dennis saat di jalan pulang sekolah,aku kali ini naik becak.Sasa dijemput sama kakaknya,jadi aku terpaksa naik becak,kalau naik angkot sendirian aku sedikit takut.
“Jadi,bisa nggak?”tanyaku cemas.Dennis terdiam.
“Mmmm…boleh-boleh,kapan mulai latihan?”tanya Dennis.Aku tersenyum ceria.
“Besok di rumah aku gimana?Di rumah ada gitar kok,”jawabku.Oh ya,Dennis pernah bilang kalau ia bisa memainkan alat musik seperti piano(yang paling ia suka),gitar,drum,dan biola.Enak ya jadi anak pinter musik kayak dia!Bisa jadi superstar seperti para penyanyi Amerika yang main film di Disney Channel.Seperti Miley Cyrus,Demi Lovato,Jonas Brothers dan masih banyak.Aku ingin seperti mereka.Tiba-tiba aku ingat lagi akan mentalku tampil didepan banyak orang.
“Oke,sore ini jam 4,bisa?”tanyaku.
“Siap bos!”jawab Dennis.Aku tersenyum.
Sudah jam empat sore,malah lebih lima menit.Dennis belum datang juga,mungkin macet atau ada urusan bentar,aku hanya terdiam di sofa menonton.Masih menunggu kedatangan Dennis.Tiba-tiba tante Irma muncul dari luar,membawa kabar baik.
“Tuh,temen kamu datang.Bule ya,Da?”tanya Tante berbisik.Aku tertawa lalu menggeleng.Dan berlari ke depan melihat Dennis.Dia sungguh tampan,kini pakaiannya lebih santai.Kaos oblong putih,dan kemeja biru kotak-kotak yang dibiarkan terbuka seperti jaket.Celana jins hitam membuatnya tampak lebih cool.Ia tersenyum membawa gitar hitam mulus.
“Kok?”tanyaku menunjuk gitarnya.
“Aku lebih cocok sama gitar sendiri,nggak apa-apa kan?”tanya Dennis.Aku mengiyakan lalu menggandeng tangan Dennis menyuruhnya masuk.
Lima belas kemudian latihan selesai.Aku memberikan Dennis segelas es jeruk.Ia tampak senang saat mendapat minuman segar.Lalu tak lama ia pamit pulang karena masih ada les privat di rumah.Hebat!Dia sepertinya makin jenius saja.
“Daaahhh…”ucapku melambaikan tangan selagi motor bebek hitam Dennis meninggalkan rumahku.Lalu aku masuk dengan senyuman,tapi tak terlalu lebar.Tadi aku menyanyikan lagu Taylor Swift-Love Story.
Esoknya hari Selasa,aku mulai rajin berlatih di kelas.Bukan di depan teman-teman,saat jam istirahat,aku diam di kelas sampai kelas kosong.Dan aku mulai bernyanyi.Tiba-tiba Sasa mengagetkanku.Ia terkejut saat aku mulai menyanyi,namun berhenti karena kehadirannya.Aku mencibir.
“Gak bilang-bilang mau konser!”seru Sasa tertawa cekikikan.Aku cemberut menatapnya.
“Bukannya dukung malah ngejek!Minggu depan,nih!”tegurku marah.
“Iya,Cuma bercanda kok.Eh,tadi aku ketemu Tirta di kantin,salam tuh buat kamu katanya.”ucap Sasa tersenyum sambil menyikutku.
“Waalaikumsalamm deh,”jawabku datar.Sasa terbahak-bahak lagi.
Tirta?Nitip salam buat aku?Hahahahaha.Gak mungkin!Paling Cuma sebagai adek dan kakak kelas seperti biasanya kan?Ah,udah deh.
Sandy dan sahabat sebangkunya,Dion menghampiriku.Mereka begitu akrab,saling merangkul.Aku kagum mereka begitu bersahabat.Tak seperti aku dan Bella yang mulai merenggang karena kecurangannya yang membuat Imel dan Caca sampai menangis.Aku semakin tak menyukai Bella yang sekarang dan aku pun menjauh dengan duduk disamping Riri.
“Da,ikut lomba nyanyi ya?” tanya Dion.Aku mengangguk sambil terus berjalan bersama mereka juga Sasa untuk naik angkot.Sasa sedang telfon dengan seseorang sambil berjalan,jadi tak begitu menghiraukan kehadiran Sandy dan Dion.
“Eh,kemarin sama siapa tuh?Naik motor sama adek kamu juga,”tanya Sandy.Dennis-kah?
“Temen,kenapa?”tanyaku ketus.
“Nggak,”lalu mereka hilang menaiki angkot jurusannya.Sedangkan aku dan Sasa menyeberang dan naik angkot jurusan kami berdua.
Di dalam angkot tidak terlalu ramai.Mungkin hanya ada tiga orang selain kami berdua.Aku duduk di pojok,dekat jendela.Aku menyenderkan kepalaku di jendela.Sedangkan Sasa masih asik bermain dengan handphonenya sambil senyam-senyum.Aku tergoda juga untuk bertanya.
“Siapa,sih?”tanyaku mencoba melihat handphonenya.Ia langsung merangkulku.
“Kakak kelas kita yang tempo hari,Da!Ternyata dia anaknya asik terus romantic bangeettt….”jawab Sasa.Aku berpikir,siapa sih?Kan banyak tuh waktu itu diangkot.Tirta bukan?
“Siapa tuh?”tanyaku mengerutkan kening berpikir.Sasa tertawa malu-malu sambil menutup wajahnya yang merah merona.
“Yang paling manis,baik,dan ramah…Adit!”jawab Sasa merangkulku lebih erat.Dan orang di sekitar kami pun memandang dengan tatapan aneh dan datar.Aku langsung melepaskan rangkulan Sasa.Bisa-bisa aku dianggap tidak normal.
“Ntar kamu juga ditinggalin,bentar lagi kan mereka lulus.Terus di kampus kepincut sama cewek kuliahan yang lebih cantik juga sexy.Udah,deh.Adit terlalu tua buat kamu,Sa.Cari aja yang sebaya.Kan banyak tuh di sekolah.Siapa lagi itu mantan kamu waktu SMP..mmmhhmmm…Dion!”seruku pada nama Dion.Sasa langsung menekuk wajahnya.
“Gak!Adit lebih baik dari Dion.Apa tuh Dion?Ih,gak deh!”jawab Sasa melipat kedua tangannya menyender ke jendela pinggir.
“Emang kalian udah pacaran?”tanyaku sedikit penasaran.
“Udah,kamu tahu gak?” aku menggeleng,”waktu aku pergi sama Mama ke mall,aku ketemu sama temen Mama,ternyata temennya itu Ibunya Adit!Da,Adit keren banget pake baju bebas,casual gimana gituuu…hahahaha,”ucapnya tertawa kecil.Sasa semakin kasmaran,”terus waktu kita akhirnya makan bareng,hahaha,kayak udah mau dijodohin aja!Bapak Ibunya baik banget sama aku,terus seneng waktu tahu ternyata anaknya satu sekolah sama aku!Dan kamu tahu?”aku menggeleng sekali lagi.
“Bapak Ibunya ngundang aku ke rumah mereka.Dan waktu kamu sakit,sepulang sekolah aku maen ke rumah mereka sama Mama juga kak Irfan,sampe disana aku diajak jalan-jalan sekeliling rumah mereka sama Adit!Ada Kak Irfan juga,sih.Tapi tiba-tiba Adit minta nomor telfon aku!Dan setelah itu kita sering telfon sama sms-an.Trus dia nembak aku,katanya dia udah suka merhatiin aku di sekolah sebelum kita kenalan sama dia!Ooohhh….”jelas Sasa tak ada titik koma.Aku terkejut mendengarnya.Kok jadi cerewet gini sih Sasa?
“Paling bohong,biar kamunya mau sama dia.”jawabku singkat.Sasa langsung menekuk wajahnya lagi.Sampai aku turun,dia tak berbicara dengan ku lagi.Marah?Gak urus ah.Namanya juga sahabat memberikan nasehat yang baik,gak mau dengar?Ya,udah.Nanti kalo udah diputusin sambil nangis-nangis.Jangan cari sahabat ya!Salah sendiri buang sahabatnya.Habis manis sepah dibuang!Wuuuuu!
Sepulang sekolah aku langsung latihan lagi,tak bersama Dennis.Ia lagi ada kesibukan les.Jadi aku berlatih bersama kakakku,Dimas.Ia jago juga main gitarnya.Lalu latihan pun dimulai meski awal-awalnya suara gitar tak bersahabat dengan mengeluarkan suara fals,kita langsung tertawa bersama.
“Bilang Papa beli gitar baru,dek.”ucap Dimas.Aku hanya memutar bola.
“Udah!Tapi Papa bilang,jangan mubazir,gitarnya masih bagus kok.Males,deh!”jawabku.Tak lama aku kembali bernyanyi diiringi petikan gitar dari Kak Dimas.
“Love Story”
We were both young, when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts-
I’m standing there, on a balcony in summer air.
I see the lights; see the party, the ball gowns.
I see you make your way through the crowd-
You say hello, little did I know…
That you were Romeo, you were throwing pebbles-
And my daddy said “stay away from Juliet”-
And I was crying on the staircase-
begging you please don’t go…
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess,
It’s a love story, baby, just say yes.
So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet, because we’re dead if they knew-
So close your eyes… escape this town for a little while.
Oh, Oh.
Cause you were Romeo - I was a scarlet letter,
And my daddy said “stay away from Juliet” -
but you were everything to me-
I was begging you, please don’t go-
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess.
It’s a love story, baby, just say yes-
Romeo save me, they’re trying to tell me how to feel.
This love is difficult, but it’s real.
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess.
It’s a love story, baby, just say yes.
Oh, Oh.
I got tired of waiting.
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading-
When I met you on the outskirts of town.
And I said…
Romeo save me, I’ve been feeling so alone.
I keep waiting, for you but you never come.
Is this in my head, I don’t know what to think-
He knelt to the ground and pulled out a ring and said…
Marry me Juliet, you’ll never have to be alone.
I love you, and that’s all I really know.
I talked to your dad — go pick out a white dress
It’s a love story, baby just say… yes.
Oh, Oh, Oh, Oh, Oh.
We were both young when I first saw you.
Dan selesai,
ITS SHOW TIME
Seminggu sudah kulalui dengan latihan bersama Kak Dimas juga Dennis.Jam 8 pagi tepat,acara PENSI sekolahku pun dimulai.Aku melihat panggung besar itu bertengger di tengah lapangan upacara yang luas.Tiang bendera terlihat tinggi di belakang panggung.Aktifitas belajar mengajar di hentikan untuk hari ini dan besok.Dua hari PENSI,hari ini untuk lomba-lomba,besok hari pengumuman pemenang,dan ada penampilan band kecil dari sekolahku.Kabarnya Tirta akan memainkan bass.Wow!Sasa masih dengan Adit,dan katanya Adit bakal menabuh drum.Sasa sudah tak sabar.Namun ia harus menunggu karena itu besok.
Keringat dingin meluncur deras dari seluruh badanku.Aku hanya menggunakan pakaian sekolah biasa.Seragam putih,rok abu-abu se-lutut.Yang berbeda rambutku diurai panjang.Masih tetap dengan ponik tebalku yang cantik.Oh,ya.Aku juga tampak berbeda,gigiku baru saja dikawat.Saran dari Dimas dan Mama,lalu aku meminta gigiku di pagerin oleh teman Papa yang bekerja sebagai dokter gigi.Dan mendapatkan diskon.Untung saja Papa setuju dan mengirimkan uang ke Makassar.Kini aku merasa lebih enak dan keren.Kebanyakan kan kalau cewek pakai kawat gigi terlihat manis.Apa aku juga?Haha.
Imel mendatangiku dengan selembar kertas,ia mengalungi tanda panitia PENSI.Dia kan anggota OSIS.Ia tampak sibuk dan cantik.Ia memberikan aku selembar kertas itu dengan tersenyum melihat kawat gigi baruku.Aku balas tersenyum.
“Ini,daftar acar PENSI kita hari ini.Jadi kamu gak kaget kalau dipanggil tiba-tiba.Kamu urutan ke 5 untuk naik ke panggung setelah sambutan kepala sekolah,dan sambutan dari ketua OSIS sama anak OSIS lainnya.Aku juga gugup ntar naik keatas panggung.”ucap Imel ikut gemetaran.Urutan kelima?Waduh,cepet banget!Dennis belum datang juga,tadi aku telfon katanya sudah mau berangkat.Aduh,Dennis kemana,sih.Dan acara pun dimulai.Kepala Sekolah Pak Adjie tampak begitu semangat dengan senyum sumeringah-nya.Aku tak seperti siswa-siswi yang lain.Aku hanya menonton dari dalam kelasku.Sedangkan yang lain tumpah ruah ke lapangan.Penuh sesak.Mereka ada yang berteriak saat Pak Kepala Sekolah membuka acara yang ditunggu-tunggu.Aku gigit jari.Tiba-tiba ada bunyi yang mengejutkanku,Dennis!Napasnya terengah-engah sambil duduk disalah satu bangku kelasku.Tangannya memegang gitar.Aku langsung memberinya minum yang memang aku siapkan untuk dirinya.Ia begitu tampan dengan t-shirt putih polosnya,dan cardigan biru tuanya.Rambutnya dibuat berantakan namun tampan,apa sengaja atau karena ia naik motor?
“Tadi,macet.Aku titip motor di rumah orang,terus lari ke sini,maaf ya aku sedikit berantakan.Belum terlambat kan?”tanyanya setelah meneguk teh gelas yang kuberikan.Aku tersenyum.
“Gak kok,minum lagi.”jawabku tersenyum duduk disampingnya.Ia tampak menatapku terkejut.Pasti kawat gigiku.Ugh,apa dia melihatnya dengan jelek?
“Dikawat,ya?”tanyanya.
“Ya,kenapa?”tanyaku menutup mulut lalu membuang muka.
“Mmm…manis,”jawabnya.Aku langsung merasa wajahku panas.Lalu mengajaknya untuk latihan satu kali lagi.Aku tampak gerogi.Dan aku merasa pengucapan Inggrisku lebih bagus setelah memakai kawat gigi.Lucky girl!
“Kita tampil urutan ke-lima.Kamu siap?”tanyaku.
“Ya,kamu?”tanyanya balik.
“Mudah-mudahan…”jawabku mengatur napas yang mulai menderu saat Dennis menatapku lekat-lekat.Di kelas itu,aku memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengobrol.Teman-temanku yang sebagian berada di kelas sambil mengerjakan sesuatu mulai menyadariku dan Dennis,lalu menggodaku dengan semangatnya.Aku merasa wajahku semakin memanas.Sementara Dennis hanya bisa tertawa sambil sesekali meneguk teh gelasnya lagi.Ia tampak lebih rileks sekarang.
Lalu tak lama setelah mengobrol dengan Dennis,namaku tiba-tiba dipanggil.Aku langsung gemetaran,Dennis menarik tanganku untuk naik ke panggung.Di koridor kelas menuju panggung yang tak terlalu jauh.Aku semakin deg-degan.Seluruh siswa-siswi memandangi kita berdua.Mungkin Dennis saja,karena dia tampak keren dengan gayanya.Celana hitam rock n roll dan sepatu converse.Memang tampan dan cool.Lalu semua bertepuk tangan saat aku dan Dennis berada di atas panggung.Disediakan tempat duduk untuk Dennis.Stand mike milikku,juga satu mike menyoroti Dennis.Ia juga menjadi backing vocal.Lalu gitar Dennis dipasangi oleh kabel untuk membuat suaranya terdengar.Aku baru menyadari gitar Dennis beda dengan gitarku.Aku tak tahu apa namanya,aku kurang begitu tahu tentang alat music.Aku hanya senang mendengar dan menyanyi.Dennis menyetel gitarnya,lalu petikan pertama membuatku semakin gugup.
“Good morning,semua..”sapaku tersenyum.Semua langsung membalas dengan antusias sambil bertepuk tangan.Aku merasa seperti Miley Cyrus atau Demi Lovato.Oh,begini rasanya di atas panggung dengan ditonton banyak orang.Aku melirik Dennis untuk memulai.Dennis tersenyum sambil membisikkan.
“Kau bisa,”ucapnya lembut.Aku langsung tersihir.Dan semangatku untuk bernyanyi pun timbul.Aku mulai menggoyangkan kepala dan kakiku sedikit saat music mulai mengalun dari gitar akustik Dennis.Semua makin teriak.Aku melihat Sasa bertepuk tangan.Aku memetikkan jari hitungan ke-empat.Lalu bernyanyi.Aku mohon semua berjalan lancar ya,Allah..
“Romeo take me somewhere, we can be alone.I’ll be waiting all there’s left to do is run.You’ll be the prince and I’ll be the princess,It’s a love story, baby, just say yes…”
Suaraku mengalun,tanganku juga bergerak sesuai music.Aku sunggu menikmati.Semua penonton juga berteriak senang sambil ikut bernyanyi.Lagu ini memang sedang hits.Aku melambaikan tangan keatas dan menyuruh mereka mengikuti,dan mereka ikut.Aku merasa seperti bintang sesungguhnya!Waow!
“We were both young when I first saw you…..”
Lagu pun berakhir,aku tersenyum mengucapkan kata terima kasih.Sambil menunduk.Semua langsung bertepuk tangan senang.Aku takjub melihatnya.Lalu Dennis menggandengku turun menuruni panggung.Aku masih gemetaran,lalu tertawa sendiri bersama Dennis.Ia tampak keren tadi.Ia memang musisi!
“Kau hebat tadi,aku kagum.” Ucapnya tersenyum menatapku saat duduk di kantin untuk makan siang.Aku tersenyum sambil menyeruput es jerukku.
“Kamu juga.Aduh,aku lega sekarang…enak juga ya tampil diatas panggung.Aku rasanya mau lagi bernyanyi seperti tadi!”seruku.Dennis tertawa terpingkal-pingkal melihat semangatku yang membara.
Selesai penampilanku,Dennis langsung minta izin pulang duluan,dia harus segera kembali ke sekolahnya.Ia juga meminta maaf tidak bisa mengantarkanku pulang.
“Ridha!Cool!” teriak Sasa mengejutkanku,untung saja Dennis sudah pulang duluan.Aku tertawa,Sasa juga.Ia duduk disampingku,tempat duduk bekas Dennis.
“Aduh,Da…kamu harusnya lihat betapa semangatnya Tirta dan betapa matanya berbinar-binar waktu kamu tampil tadi!”seru Sasa,aku langsung membekapnya.Aku menyuruhnya diam,takut-takut ada orang lain yang dengar.Sasa mengangguk.
“Masa,sih?”tanyaku berbisik.
“Iya,beneran.Tadi aku diajak nonton sama Adit ditempat anak kelas 12,aku liat Tirta semangat banget..”jawab Sasa tersenyum dan berbisik.Aku terkejut.Tirta sampai segitunya?
“Biar aja,deh.Gak penting,”ucapku tak perduli.
“Tadi dia juga sedikit sewot waktu ngelihat cowok yang iringin kamu,katanya lebai gayanya.Hahahaha.Itu Dennis yang pernah kamu ceritain?” tanya Sasa masih berbisik.Aku sedikit tergoda dengan pernyataan Sasa yang terakhir,namun aku sudah janji untuk memendam perasaan itu pada Tirta.No more love for you!
“Mmm…iya,itu tadi Dennis,”jawabku tersenyum kecil.
“Ohhh,”Sasa menganguk-angguk mengerti,”dia kemana?Kok ngilang?”tanya Sasa.Aku nyengir.
“Udah pulang,dia kan harus balik ke sekolahnya lagi.Tadi dia Cuma minta ijin aja sebentar sama sekolahnya,”jawabku.
“Enak ya sekolahnya si Dennis,ngertiii…banget!”ucap Sasa.Aku hanya tertawa kecil dan mengangkat kedua bahu.Pokoknya hari itu hari yang paling menyenangkan!Aku harus lebih brave lagi di sekolah ini kalau gak mau dikucilin.
DENNIS BIRHTDAY
Lagu Jason Mraz,I’m Yours,terdengar mengalun merdu dari komputer di dalam kamarku.Aku ikut menyanyikannya,menyamakannya dengan Jason Mraz yang juga menjadi idolaku.Ketukan pintu membuatku terdiam.Tante Irma.
“Ada temen kamu,tuh.”ucapnya.Aku langsung loncat dan menuju pintu luar.Astaga,Dennis!
“Hai,”sapaku ragu.Dennis tersenyum dan membalas sapaanku.Ia tampak gugup,ia masih mengenakan baju seragam sekolahnya,aku yakin dia baru pulang.Ngapain dia bela-belain kesini?
“Da,besok dateng ya,ke acara ulang tahun aku di Pizza Hut MP,”ucapnya tersenyum memberikanku secarik karton kecil berwarna merah muda.Aku terkejut,besok?Duh,aku harus kasih hadiah apa.
“Ya,jam berapa?”tanyaku.
“2 siang,kamu bisa ajak temen kamu atau Ilo sekalian,”ucapnya.Aku mengangguk.Lalu Dennis beranjak.
“Aku pulang ya,jangan lupa besok.”Aku mengingat sesuatu,aku menahan Dennis untuk tak pergi dahulu.
“Besok kan les piano,kita mau bolos?”tanyaku.Dennis tertawa kecil.
“Tenang,semua orang di tempat les kita udah aku undang,jadi yaaa…bisa dibilang besok les pianonya diliburkan satu hari aja.”jawab Dennis tersenyum.
“Oke,deh.”jawabku semangat.Dennis pun pergi dengan motor bebek hitamnya.Aku tersenyum menatapnya dari belakang.
Keesokan harinya,aku pergi sendiri,akhirnya.Aku hanya mengenakan t-shirt lengan panjang warna kuning,dan celana jins hitam.Sambil menenteng tas selempang di lengan,dan membawa plastik putih berisi kado untuk Dennis,album musik terbaru dari Jonas Brothers.Grup yang paling ako favoritkan.Mudah-mudahan Dennis senang.Aku baru saja membelinya tadi sebelum ke Pizza Hut.Aku buru-buru membungkusnya dengan kertas kado warna kuning,warna kesukaanku.
Pestanya begitu ramai,hampir semua orang datang.Ada Tiara juga,dan anak-anak les piano lainnya yang angkuh-angkuh itu.Mereka sedikit terkejut saat melihatku datang.KENAPA LIAT-LIAT?!Tanyaku dalam hati saat Monic,salah satu anak angkuh,yang menatapku di pintu masuk.Bajunya begitu ketat dan kurang bahan.Ih!Jijik!Jadi cewek tuh jaga diri baik-baik.Bukannya mengundang apalah itu!
Aku tersenyum saat menemukan Dennis di meja tengah,hanya ada dua bangku.Dennis menyuruhku duduk di bangku salah satunya.Aku berhadapan dengan Dennis,dan aku baru sadar Dennis sengaja menyimpan kursi spesial ini untukku.Mata-mata disekeliling kami menatap curiga,ada yang berbisik.Dennis,kamu kok ngundang mereka yang angkuh-angkuh itu,sih?Tanyaku miris dalam hati.Hampir lupa,aku memberikan kado untuk Dennis dengan tersenyum.
“Happy B’day,ya,Dennis!”seruku tersenyum memamerkan kawat gigiku.Dennis menerimanya dengan senang.
“Thanks,ya.Eh,makan-makan.”ucapnya.Lho?
“Kan belum potong kue,kok udah langsung makan?”tanyaku.Denis tertawa.
“Kamu witty banget!” hah witty?Hahahahaha.”Aku gak ngadain acara potong kue,tamu masuk, langsung makan,nggak apa-apa.Aku udah siapin pizza spesial buat kamu.”ucapnya lagi.Aku jadi malu,Dennis bertepuk tangan dua kali.Lalu muncul pelayan membawa nampan yang berisi dua piring kecil pizza,bentuknya yang paling membuatku tercengang.Bentu hati!Love!Aku rasanya ingin menangis.
“Makan,Da.Ini spesial lho,”ucap Dennis.Aku pun memakannya dengan disertai canda tawa dari Dennis yang membuat ulang tahun itu menjadi lebih terkesan bahagia,tak seperti dugaanku sebelumnya.
“I love Pizza!Mamma mia!Numero uno!”seruku pada Dennis sambil bergaya ala orang Italia.Dennis semakin tertawa.Saat dia tertawa,manis banget.Hatiku semakin luluh dan terenyuh…Halah!Hahahahaha.
“Ternyata kamu baik,ya,Nis,”ucapku tertawa kecil sambil menyeruput cola flout-ku.
“Maaf ya kalau kemarin-kemarin di tempat les aku jahat sama kamu,itu semua karenaa…aku gugup kalau dekat kamu,”jawabnya.Gugup?Kenapa?
“Kenapa?”tanyaku penasaran.Dennis menatapku lekat dan serius.Ia menatap lurus kedua mataku.Membuat pipiku memerah.
“Aku suka sama kamu,”jawabny lirih.APA?Rasanya jantungku mau copot.Dennis menembakku!Ia menyatakan perasaannya padaku.Apa yang harus aku jawab?Bagaimana Tirta?Apa?Aku masih memikirkan Tirta.Kepalaku jadi pusing sekejap.Aku hampir oleng,
“Kamu gak apa-apa?”tanya Dennis memegangi lenganku saat aku hampir jatuh.Aku menggeleng tersenyum tipis.Lalu duduk dengan manis lagi.
“Tadi kamu bilang apa?”tanyaku meyakinkan pendengaran.
“Da,aku malu kalau harus ngomong gini,tapi…mmm aku sayang sama kamu,”jawabnya menunduk.
Aku tersenyum memandang Dennis,lalu aku juga bilang kalau aku sayang sama dia.Dennis mendongak tersenyum,lalu menggenggam tanganku,aku sedikit terkejut,baru kali ini tanganku digenggam selain dengan ayah,atau saudara laki-lakiku.Wajahku pasti sudah memerah.
LOVE
Tidurku malam ini tidak nyenyak.Mata tak mau terpejam.Malah bibirku tergerak untuk senyum-senyum mengingat kejadian penembakan Dennis tadi siang.Aku kini punya pacar!Dan Dennis-lah yang menjadi pangerannya.Ini pertama kalinya aku pacaran.Tapi,apa aku tulus cinta sama Dennis?Atau malah mengharapkan Tirta yang mulai menyadari keberadaanku?Aku bingung.Rasanya kepala ini mau pecah saja.Bayangan Dennis dan Tirta terus mengisi kepalaku.Oh tidak!
Malam itu aku insomnia,kata itu aku dapat dari Sasa.Insomnia penyakit yang tidak bisa tidur itu kan?Pagi ini aku belum memberitahu Sasa tentang penembakan Dennis,nanti saja waktu istirahat.Ponselku bergetar tadi pagi,Dennis kirim sms.Katanya,hati-hati ya di sekolah,miss you..’ aku langsung luluh.Begini ya rasanya pacaran ? Haha .Aku sampai deg-degan kalau melihat Dennis menghubungi ponselku.
“Sa,mau cerita dong,”ucapku menatapnya waktu duduk bersebelahan di kelasku.Sasa melirik sebentar,lalu kembali fokus pada hapenya.Ya,aku rasa dia masih sibuk dengan Adit.Kenapa ga ngobrol langsung aja sih di sekolah?Satu sekolah ini.
“Malu tau kalo ngomong tatapan muka langsung,belum lagi diliatin sama orang,”jawab Sasa mencibir.
“Oh,eh tau gak?Dennis nembak aku kemaren,”ucapku datar sambil meminum teh kotak.Sasa batuk-batuk sambil mencengkram lengan kiriku.Aduh!
“Sakit!”seruku melepaskan tangannya.
“Beneran,Da?Kok bisa?Trus kalian pacaran?”tanya Sasa tanpa titik koma.
“Iya,kita pacaran,ya karena aku suka dia suka.Gimana,sih?Kamu sama Adit juga gitu,kan?”tanyaku.Sasa mengangguk.
“Kapan?Kapan?”tanya Sasa tak sabaran.Kapan apaan?
“Kalian jadiannya,Bu!”jawab Sasa.Ohh..
“Kemaren,”jawabku tersenyum manis.Sasa masih tak percaya padaku,ia terus memohon agar aku menjelaskan secara rinci bagaimana Dennis menembakku.Eh,kenapa harus disebut tembak,sih?Kalo nembak kan mati,tau!
Semenjak Sasa tahu,ia selalu menggodaku jika ponselku berdering.Dimanapun,dia kenapa sih?Risih jadinya!Padahal aku gak pernah atau mungkin lebih bisa dibilang jarang membicarakan tentang Adit-nya pada Sasa.
Sepulang sekolah,aku dan Sasa menyusuri jalan untuk mendatangi tempat berdiamnya angkutan umum.Tas ku terasa berat,karena piala yang kubawa.Aku juara dua lomba nyanyi tingkat kelas 7!Haha.Ini akan jadi berita bagus,aku sengaja merahasiakannya pada Dennis,sore nanti saja aku memberitahunya,di tempat les piano.Ia pasti akan terkejut dan tersenyum bangga dengan hasil kerja kita berdua.Sasa menatapku bingung yang senyam-senyum sendiri.
Senyum terus mengembang di bibirku saat aku menaiki tangga satu per satu menuju kelas piano.Gak peduli deh sama teman-teman kelas yang angkuh itu kalau aku senyum terus,biar aja kalau mereka mau bilang aku gila atau apa-lah!
“Da,gimana lombanya?”tanya Dennis,ia duduk sebangku terus setiap les piano.Aku jadi tambah senang.Tiara memperhatikanku dan Dennis dari bangkunya.Memasang tampang menyelidik dan penasaran.
“Kita menaaaaaaang!”teriakku tersenyum ceria.Piala itu kini ada dikamarku,diatas lemari.Aku sudah memamerkannya pada Tante Irma,Kak Dimas,Ilo,juga Andre!Hahahaha.Dennis ikut tersenyum,namun tiba-tiba ia menunduk,memegang keningnya.Aku jadi khawatir.
“Den,kenaapa?”tanyaku menepuk lengannya.Ia mendongak,lalu berlalu.
“Gak apa-apa,aku ke toilet dulu,ya.”ucapnya datar sambil berlalu keluar kelas menuju toilet,ia tampak lemah,dan sempat kuperhatikan wajahnya tadi itu pucat.Setelah Dennis pergi,Tiara langsung loncat menghampiriku.
“Kalian kok akrab banget?”tanya Tiara.
“Akrab gimana?Biasa aja kayak orang pacaran lainnya,”jawabku polos membuka lembaran novel yang kubawa tadi.Hanya melihat-lihat,belum niat untuk membacanya.
“What?!Kok bisa,sih?Gak percaya aku!”seru Tiara menatapku dengan kedua matanya yang hampir keluar dari tempatnya.
“Ya,gitu,deh,aku suka dia ju….”
“DENNIS PINGSAN!DENNIS PINGSAN DI TOILET!!!!!!!” teriakan Janu,teman sekelasku memutuskan perkataanku.Aku terlonjak,teriakan itu membuatku berdiri melongo,kini gantian kedua mataku membulat.Aku hampir jatuh,untung saja Tiara mencengkeram lenganku,lalu menyeretku menuju tempat Dennis pingsan,seisi kelas pun ke sana.
Astaga!Teriakku dalam hati waktu lihat Dennis terkapar di lantai,aku menerobos kerumunan,lalu menghampiri Dennis,duduk disampingnya dengan gelagapan cemas.Air mataku turun begitu saja.Janu dan teman lainnya langsung memapahnya ke bangku panjang dekat toilet,aku duduk disampingnya,menepuk-nepuk wajahnya berharap dia akan siuman. “Jan,Dennis kok bisa pingsan?!”tanyaku.Janu mengangkat kedua bahunya.
“Gak tau,Da.Tadi gue liat udah pingsan,”jawab Janu.Tiba-tiba Dennis sadar,matanya membuka perlahan,lalu langsung berusaha duduk saat melihatku duduk disampingnya.
“Ridha?”tanya Dennis lemas mengacak-acak rambutnya.Ia terkejut saat melihat semua teman les piano menontonnya dengan pandangan cemas.
“Lho?Ngapain semua disini?”tanya Dennis.
“Kamu pingsan,”jawabku menenangkan Dennis dan memberinya segelas air mineral.
“Lha?”tanya Dennis bingung. Setelah itu semua kembali ke kelas,termasuk aku dan Dennis,aku memapahnya ke kelas.Ia masih tampak pusing dan lemah.Apalagi rambutnya yang acak-acakan ini,tambah membuatnya tampak kusut seperti orang sakit.
“Tadi pusing banget,thanks ya,”ucap Dennis tersenyum.
“Iya,kamu kalo masih pusing pulang aja,”jawabku menyarankan.Dennis menggeleng,ia tak mau aku pulang sendiri nanti habis les piano.Aduh,dia perhatian banget!
“Ya,udah.Aku pulang duluan,emang masih pusing,”jawab Dennis mengalah,setelah mendapat izin dari Bu Hilda,ia pulang.Tidak dengan motor bebeknya,menelfon sopir keluarganya untuk minta dijemput.
Selesai itu aku masuk ke kelas karena pelajaran les piano akan segera dimulai.Aku duduk sendiri di bangku hari ini.Namun,tiba-tiba Tiara membawa tas kecilnya lalu duduk disampingku,senyumanku kembali lagi.Ternyata aku juga membutuhkan Tiara,teman yang baik selain teman-teman kelasku lainnya.
“Gak mungkin kan kamu duduk sendirian?”Tanya Tiara.Aku mengangguk senang,ya walaupun kita dimarahi Bu Hilda karena kebanyakan mengobrol,tapi aku senang.Dan,mudah-mudahan saja Dennis cepat sembuh.Apalagi sepertinya besok gak bisa ketemu dia.
Ponselku berdering,aku langsung mengangkatnya sambil bergelung dengan gulingku di kasur.Malam ini aku bebas tanpa PR,karena besok gak belajar,Cuma senam aja di Sekolah.Saat mataku mulai terpejam,ponselku berdering,aku membuka mata lagi,lalu mengangkatnya.
“Halo?”tanyaku lemas.
“Ridha,ini mama,”jawab Mama.Aku langsung terjaga dan duduk menyender di tembok.
“Kok nelfon ke hape?”tanyaku.Mama tertawa kecil.
“Takutnya tante Irma udah tidur,kamu kan suka begadang,jadi mama telfon ke hape aja,gak ada masalah kan di rumah?”Tanya Mama.Aku tersenyum.
“Oh,iya,gak ada apa-apa.Mama sama Papa di Bandung gimana?”tanyaku.
“Baik,tante Lisa udah melahirkan sayang,baru aja,anaknya lucu,putih,ganteng lagi.Namanya Putra.Tante Lisa salam tuh buat kamu,”jawab Mama.
“Wah,mama ntar bawain aku fotonya,ya!Eh,Ma,aku menang lomba nyanyi!”jawabku mulai semangat.
“Hebat anak mama,Ilo gimana?”Tanya Mama.
“Biasalah anak kecil,rewel.”jawabku seadanya dan memang kenyataannya.
“Behel kamu?” Tanya Mama.Aku tertawa,menutup mulutku yaaa walau mama tak bisa melihatnya.
“Lucu,Ma.Warna biru langit.Ya,seminggu makannya kurang enak,tapi sekarang udah mulai biasa kok.”jawabku terkekeh.
“Ya,udah.Minggu depan Mama baru pulang,ya.”ucap Mama.Hah?Minggu depan?Kenapa?
“Iya,Papa ada urusan,trus Mama juga mau jalan-jalan di Bandung.Kan enak tuh,”jawab Mama.
“Yeee…ya udah deh,hati-hati,ya,Ma!”jawabku tersenyum walau hati ini rasanya cemburu!Lalu seusai mengobrol dengan Mama lewat telfon,aku tidur dengan memeluk gulingku.Dan berharap memimpikan Dennis.
OSIS DAN TIRTA
Aku melangkahkan kaki sambil menyangkutkan tes selempang di lenganku.Seperti biasanya,aku memakai baju olahraga yang memang dianjurkan.Karena hari Jumat selalu senam bersama di sekolah.Hari ini aku datang lebih pagi.Saat sampai di kelas,Dion langsung menghampiriku.
“Da,cowok yang waktu itu siapa?”Tanya Dion.Aku mengerutkan dahi.
“Dennis?”tanyaku.Dion mengangguk.Lho,kenapa?
“Ntar ketemuin aku sama dia,oke ?”Tanya Dion.Hah?Dion ini cewek apa cowok?Kok ngotot banget ketemu sama Dennis?
“Mau ngapain?”tanyaku mendelik aneh sambil berjalan masuk menuju bangku.Dion berjalan disampingku dengan nyengar-nyengirnya gak karuan.
“Minta ajarin maen gitar donk!Kan tau selama ini permainan gitar aku jelek.Gimana,sih?”jawab Dion masih nyengar-nyengir sok keren.Aku tertawa,lalu menyetujui permintaannya itu,kalau Dennis-nya juga mau,sih.Hehe.Gak janji ya,Dion!
Selesai senam yang melelahkan dan GEJE(kurang kerjaan),aku dan yang lain masuk kelas untuk mengaji,kalau gurunya juga datang.Jadi,main-main aja deh di kelas.Kacau,apalagi kalau anak cowoknya pada main sepak bola dalam kelas pake botol,dasar anak kecil,gak modal lagi pake botol bukan bola beneran.
Aku berjalan ke ujung pintu kelas,sambil berkacak pinggang sambil mendengus kesal karena hari ini kelas sepi dan kotor!Caca sama Nadia lagi pada baca komik,giat amat.Imel gak masuk,katanya ada urusan keluarga.Kalo Bella?Gak tau deh,udah lama gak ngobrol sama dia,nyebelin banget.
“Ridha,” tiba-tiba suara itu mengejutkanku.Suara itu dari Adnan,ketua OSIS sekaligus kapten basket sekolahku.Katanya sih banyak yang demen sama dia,katanya anaknya manis,ganteng,lucu,juga baik.Cuma satu yang gue setuju,baik orangnya.Dia menghampiriku sambil tersenyum dan membawa lembaran kertas.
“Ya,kak,kenapa?”tanyaku balas tersenyum sambil menurunkan tangan,kan gak sopan aja sama kakak kelas kok gayanya gitu?
“Imel ada ?”tanya Adnan.Imel?Ngapain nyariin Imel,nih?Jangan-jangan.Adnan suka sama Imel lagi?Haha.
“Gak masuk,kenapa kak?”tanyaku lagi.Adnan celingak-celingkuk ke dalam kelas.Gak percaya ya sama aku?Dasar wong edan!
“Oh,gak apa-apa,Cuma mau ngasih tahu buat pendaftaran anggota OSIS,soalnya kita masih butuh anggota,pemilihan dari guru-guru kemarin belum cukup,apalagi kan anggota OSIS kelas tiga-nya udah pada mau lulus,” jelas Adnan,aku hanya bisa mengangguk-angguk saja.
“Kamu ada minat?”tanya Adnan mengejutkanku.Aku berpikir keras,kayaknya boleh juga ya masuk OSIS?Pengen ikut ber-organisasi juga.Boleh,deh.
“Ehm,boleh-boleh,kak,”jawabku tersenyum.Adnan juga tersenyum,lalu memberikanku lembaran kertas itu.
“Ini,kamu umum-in sama teman-teman di kelas,oke?Ditunggu ya,Da,”ucap Adnan berlalu.Aku mengangguk-angguk mengerti.Ternyata Adnan baik juga.Ya,walaupun udah saling kenal di ekskul basket,kita berdua jarang ngobrol.
Setelah jam pulang sekolah,aku bukannya pulang tapi malah masuk ke ruang OSIS,sendirian,teman-teman sekelasku pada males ikutan OSIS,ya udah aku aja sendirian ke ruangan itu sambil sedikit deg-degan.Sampai disana,aku mengucapkan salam,lalu terpaku karena mereka sudah berkumpul semua.Dan…aku melihat TIRTA!Rasanya aku ingin keluar dari ruangan itu,trus lari jauh-jauh buat ngejar Sasa yang mungkin belum naik angkot.Tapi,gak bisa.Adnan tersenyum menyambutku,lalu menyuruhku duduk disampingnya,semua mata tertuju padaku.Aku duduk sambil nyengar-nyengir.
“Assalammualaikum,siang ini saya akan membuka rapat OSIS,”ucap Kak Adnan berdiri gagah.Semua bertepuk tangan sambil menjawab salam Adnan.
“Baik,kali ini kita kedatangan anggota OSIS baru dari kelas 10,silahkan kepada anggota baru untuk memperkenalkan diri.”lanjut Adnan.Keringat dingin mulai bercucuran.Satu per satu memperkenalkan dirinya,dan ini giliranku.Aku beranjak dari kursi,lalu berdeham sedikit,dan..
“Nama saya Ridha,dari kelas 1 IPA-1 ,terima kasih.”ucapku tersenyum kaku lalu kembali duduk.Aku melihat Tirta tersenyum.Oh,Tuhan!
Hari itu rapat dimulai dengan serius juga canda tawa yang dicelotehkan oleh semua anggota OSIS,termasuk Adnan.Begitu seru dan penuh tawa.Aku kira akan membosankan dengan pembahasan yang tak penting menurutku.
“Jadi,kita akan mengadakan observasi ke beberapa SMA di Makassar .Saya akan bagi menjadi beberapa kelompok,satu kelompok terdiri dari 4 orang.Semua daftar nama nanti saya minta.Baik,silahkan menulis nama masing-masing dari kertas bergilir dan langsung saya bagi ke beberapa kelompok,silahkan,”ucap Adnan.Aku pertama menulis.Karena aku paling dekat dengan Adnan,posisi duduknya.Adnan begitu ramah.Setelah sepuluh menit mungkin ada,Adnan membagi menjadi beberapa kelompok.Saat namaku disebut,aku merasa gugup.Kenapa,ya?
“Kelompok ketiga,Ridha,Lisa,Adit,”oh,iya,ada Adit juga ternyata,”dan Tirta.”lanjut Adnan.Kedua mataku membulat,mampuusssss!Aku bisa kaku terus kalo deket-deket sama Tirta.
“Silahkan yang telah tahu kelompoknya masing-masing untuk duduk satu kelompok,kita akan segera bagi tugas,ayo!” ucap Adnan setelah semua kelompok ditentukan.Kakiku terasa kaku saat berjalan mengunjungi Adit dan Tirta,aku duduk disamping Lisa,ia baik juga,ia dari kelas IPS-3,aku tersenyum menjabat tangannya.Lain hal dengan Adit dan Tirta yang memang sudah kenal denganku,mereka hanya tersenyum sambil bercanda gurau.Lisa,yang tak kenal masih terkesan diam,malu.
“Sasa mana,Da?”Tanya Adit tersenyum-senyum.Dasar,lagi rapat gini nanyain pacar.Jadi iri dan inget Dennis!Coba aja aku sama dia satu sekolah.
“Udah pulang,kak.Baru aja,”jawabku jujur.Adit terlihat kecewa.
“Oh,dia gak ikut OSIS ?”Tanya Adit lagi.Tirta mengobrol dengan orang di belakangnya.Lisa hanya duduk menyender menatap kedua tangannya.
“Gak mau katanya,”jawabku.Adit hanya tersenyum.Lalu Adnan menepuk tangannya sekali untuk meminta diam.Ia menjelaskan sambil menulis-nulis sedikit di whiteboard sambil sesekali menunjuk sekretaris,bendahara,dll.Ia tampak ramah dengan semuanya.Dan semua cewek terdiam menatap Adnan yang lagi ceplas ceplos di depan.Tirta dan Adit begitu serius mendengarkan temannya itu yang di depan,Adnan.Tak lama,Adnan memberikan waktu untuk masing-masing kelompok membagi tugas pada anggota-anggotanya.Di kelompokku,Tirta menjadi ketua dan entah kenapa Adit memilihku sebagai wakil,aku hanya bisa menerima pasrah.
“Oke,kita dibagi tugas untuk melakukan observasi di SMA 6,”ucap Tirta.APA?!Aku gak salah dengar?SMA 6?Itu kan sekolahnya Dennis!Awal-awal aku merasa senang kalau bisa ketemu Dennis,tapi,nanti kalau Tirta ketemu Dennis?Lho emang kenapa?Hah sudahlah.Adit sedaridati terus berceloteh canda tawa.Kami berempat terus tertawa lepas.Yang lain juga sama,dan ruang OSIS tampak rebut namun akrab.Sesekali guru lewat lalu-lalang memperhatikan kita semua.
“Da,kamu bisa jadi fotografer?”Tanya Tirta menatapku.Hah?Aku?
“Ehm..bisalah kalau foto-foto,”jawabku seadanya.Tirta mengerutkan dahi,lalu tersenyum.
“Ya,udah,kamu saya tugasin buat jadi fotografer di observasi kita nanti,”ucap Tirta.Aku mengangguk lemah.Untung saja aku punya kamera digital di rumah.Jadi aku bisa pakai itu.Tirta menoleh pada Lisa.
“Sa,tulisan kamu bagus?”Tanya Tirta.Lisa mengangguk,langsung saja Tirta menyuruh Lisa menjadi sekretaris atau tukang yang kebagian nulis-nulis hal-hal yang penting.Setelah itu Tirta mengumumkan kalau Adit ditugaskan buat jadi perantara ke kepala sekolah SMA 6 nanti bersama Tirta.Jadi hari Senin nanti kita semua anak OSIS bakal libur belajar satu hari,asik!Tapi kita bakal sibuk di beberapa SMA,karena nanti kita bakal mengadakan PENSI,dan katanya lagi di PENSI itu kita bakal ngundang salah satu band indie.Wauw!
Selesai rapat,aku berjalan sendiri keluar sekolah.Lisan dan yang lain juga pada pulang,ada yang naik becak,ada yang dijemput,ada juga yang sama kayak aku,naik angkot.Tapi,waktu keluar gerbang,aku terkejut melihat pemilik bebek hitam menggunakan jaket hitam sambil tersenyum menyodorkan helm padaku.
“Dennis?”tanyaku terkejut melihatnya di hadapanku.
“Ya,ayo aku antar pulang,gara-gara kemarin aku gak bisa anter kamu pulang.”jawab Dennis.Baik banget dia.
“Oh,kamu udah sembuh?Repot amat jemput aku,”tanyaku menerima helm Dennis lalu memakainya.Dennis naik ke motornya,lalu menyuruhku naik.Tahu aku masih menunggu jawaban,ia pun menjawab.
“Yaaaa seperti orang pacaran lainnya,kalo jemput kan gak masalah,”jawab Dennis.Aku langsung tertawa.Lalu Dennis melajukan motor bebek hitamnya dengan santai.Saat melewati depan sekolah,aku melihat Tirta dan Adit menatapku sambil melambaikan tangan,aku balas melambaikan tangan.Udah kompak,mereka baik juga.
“Nis,nanti Senin aku ke sekolah kamu.” Ucapku di telfon.Malam itu sambil mengerjakan PR bahasa Inggris,aku menelfon Dennis di dalam kamar.
“Oh,ya?Mau ngapain?”Tanya Dennis gak terkejut sama sekali dari nada suaranya.Aku sedikit kecewa.
“Kegiatan OSIS,”jawabku datar.
“Ikut OSIS?”Tanya Dennis.
“Yaiyalah,kenapa emangnya?”tanyaku mulai emosi.
“Gak apa-apa,ya udah deh kamu belajar aja sana,kan Senin juga kita ketemu,daaaahhh…” jawab Dennis memutuskan telfonnya.Aku melongo.
“Daahh..”jawabku lirih di jawab dengan nada tut..tut…tut..Akhir-akhir ini Dennis jadi mulai cuek dan gak peduli sama hal-hal yang aku lakuin.Aku jadi ragu kita ini masih pacaran atau enggak?Lalu aku menyalakan ponselku memutar lagu Vierra-Perih.
Dengan lemas,tanganku menopang wajahku.Kelas,saat jam istirahat menjadi sepi.Namun keadaan di luar kelas pasti ramai.Hari Senin,tak ada les piano.Huh,membosankan.Lho?Haha.Jadi terbalik sekarang.Ridha,Ridha!Ckckckc.
“Kenapa,Da?Kok lesu gitu?Nggak ke kantin?Apa kamu sakit?”tanya Imel yang tiba-tiba muncul dengan Caca,lalu mereka duduk disampingku.Mereka baik,kan?Memang.
“Nggak,Cuma lagi kangen sama seseorang..hehe”jawabku nyengir.Mengingat Dennis.
“Ciee..siapa tuh?Udah nggak mikirin Tirta,nih?”tanya Imel menyikutku.Sepertinya wajahku memanas.Namun,setelah mendengar nama Tirta,aku langsung lesu lagi.
“Jujur,aku masih suka sama Tirta,tapi percuma aja.Paling ntar juga udah lupa lagi.Hehe,”jawabku pasrah,lalu tersenyum.
“Bagus,deh!Gitu dong,Da!Senyum!Jangan merengut mulu!Oke?”tanya Caca ikut nimbrung.Kita pun tertawa bersama.Beruntung aku masih memiliki teman seperti mereka!Tuhan,terimakasih!
“Eh,kalo misalnya kita suka sama dua orang,nggak apa-apa gitu?”tanyaku.Imel dan Caca saling berpandangan,lalu menggeleng.
“Jadi?Selain Tirta,siapa yang kamu suka?”tanya Imel semangat.Caca juga mengangguk menunggu jawaban.Aku menyerah.
“Dennis,”jawabku lemas lalu tersenyum.Imel dan Caca saling berpandangan lagi,mereka memang kompak.
“D-dennis?Siapa,tuh?”tanya Caca.
“Temen les aku!”jawabku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Cie…ciee…yang lagi kasmaran,nih!”teriak mereka berdua,lalu kita berdua tertawa.
Siang harinya,seperti biasa,aku pulang dengan Sasa,sahabat paling dekat denganku.Ia cantik,dan ceria sepertiku,dia selalu ada untukku.Dan untungnya dari SD sampai SMA sekarang,sekolah kita selalu sama.Kita pulang menaiki angkutan umum.
“Da,aku perhatikan kamu kok kayaknya senyum terus daritadi,kenapa nih?”tanya Sasa membuyarkan lamunanku tentang Dennis.Aku tersenyum malu.
“Aku mau cerita,tapi ntar aja kalo udah sampe di rumah aku,jadi kan main ke rumah?”tanyaku.
“Iya,oke deh!”jawab Sasa.Angkutan umum ini masih terdiam menunggu penumpang yang lain,maklum di dalamnya hanya ada kita berdua.Tiba-tiba ada segerombolan anak SMA kelas 3,dari sekolah kita berdua.Mereka kakak kelas kita,kira-kira ada 5-6 orang.Mereka berseruduk memasuki angkutan umum ini,lalu akhrinya penuh,dan kita terjebak di tengah-tengah mereka.Mereka tertawa bersama,bercanda tentang apapun,dan ada yang membuat aku terkejut,Tirta..
“Gimana lo sama Mita?”tanya salah seorang temannya pada Tirta,yaaa bisa dibilang aku menguping,mungkin Sasa juga,karena ia pasti mengenali sosok Tirta yang diujung angkutan dengan tas selempang biru,ia tampak begitu tampan dalam jarak yang dekat.Tuhan!
“Bingung gue,kadang dia baik,kadang nyebelin juga!Jadinya males..”keluh Tirta.Aku tiba-tiba tersenyum tipis.Lho?
“Anak SMA 3 juga,kan?”tiba-tiba salah satu kakak kelas bermata sipit dan wajahnya lucu,menoleh padaku.Yang lain langsung terpaku menatap kita berdua.Oh!Aku nyengir,begitu juga Sasa.
“Iya,kak”jawabku polos.
“Kelas berapa,dek?”tanyanya lagi.
“Kalo saya IPA-1,kalo temen saya ini IPS-1,”jawabku gugup,Sasa mengangguk.Kakak kelas itu hanya mengangguk tersenyum lalu menyodorkan tangannya.
“Adit,IPA-3.”ucapnya.Lalu aku menyambut tangannya.
“Ridha,”jawabku tersenyum.Lalu Sasa juga disalaminya,dan akhirnya semuanya jadi berkenalan dengan kita.Ada kak Ardi,Nirwan,Rangga,Alex,lalu yang terakhir..
“Tirta,”ucapnya tersenyum padaku sambil menyodorkan tangan.Aku gemetar,lalu mencoba sekuat tenaga menyambut tangannya setulus mungkin.
“R-ridha..”jawabku gugup.Lalu Tirta tersenyum.
“Salam kenal ya dek!”balas Tirta.Lalu perjalanan kembali sunyi setelah perkenalan yang panjang itu.Lalu akhirnya kita sampai di rumahku.Kakak kelas itu mengucapkan salam perpisahan.
“Dadaaaahhh Sasa,Ridhaaaa!”teriak mereka bersamaan,aku dan Sasa tertawa.
“Nggak nyangka ternyata mereka baik,nggak seperti yang kita pikir!Hahahaha!”seru kita saat berjalan memasuki halaman rumahku.
Sasa terduduk di hadapanku sambil memangku bantal biruku,kita berada di kamarku.Kita akan saling curhat.Aku jadi malu untuk menceritakan Dennis.
“Dennis?Siapa,Da?Tirta gimana?Tadi tangannya wangi nggak?”tanya Sasa terkekeh,aku menyikutnya.
“Serius dong,Sa!Aku tuh sekarang suka sama si Dennis itu!Gimana dong?”tanyaku marah.Sasa terdiam,dia berpikir.
“Ya,gak apa-apalah!Kamu suka sama orang ya wajarlah..”jawab Sasa mencoba bijak.
“Masalahnya,aku masih sedikit suka sama Tirtaaa!”teriakku langsung menutup mulut,takutnya keluargaku ada yang dengar.
“What?Tapi,Cuma sedikit kan?Ya nggak papa-lah!Jalanin aja dulu!Si Dennisnya nunjukkin kalo dia suka sama kamu juga nggak?”tanya Sasa lagi.Aku terdiam.
“Awalnya dia cuek banget sama aku,Sa..tapi akhir-akhir ini dia tuh baiiiiikkk…banget sama aku!Pokoknya perhatian banget,deh!”jawabku belepotan.Sasa terkekeh.
Sorenya,sehabis latihan basket di sekolah.Aku berjalan sendiri mencari angkot.Sasa sudah pulang,ia dijemput kakaknya.Jadi sepi jalan sendirian,yang lain semuanya pada ada urusan,ada yang ke warnet,mall,malah ada yang betah latihan sendiri di sekolah.Ckckckc.Saat akan menyeberang,tiba-tiba motor bebek hitam menghadangku.Aku terkejut.Orang yang mengendarainya cukup tinggi,namun wajahnya tertutup helm.Saat akan marah,orang itu membuka helmnya dan ternyata…
“Hah?Dennis?!”tanyaku terkejut,Dennis hanya tersenyum,lalu meminggirkan motornya dan mengisyaratkan aku untuk mengikutinya.Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.Setelah itu Dennis memarkirkan motornya,menyimpan helmnya lalu menoleh padaku,dia menyender di motornya sambil membawa tas punggung warna hitam.
“Ngapain kamu jam segini masih di jalan?”tanya Dennis aneh.
“Habis latihan basket.Kamu sendiri ngapain?” tanyaku,lalu ikut menyender di motornya,berdiri disampingnya.
“Habis latihan juga,tapi tennis lapangan.Hehe”jawabnya tersenyum.
“Ohh..”jawabku.Lalu suasana hening.Tiba-tiba ia bergerak mengambil helmnya,sepertinya hendak pergi.
“Aku anter pulang,deh.Mau nggak?”tanyanya.Aku terbelalak.Tapi,gimana nanti kalo Papa atau Mama lihat aku sama cowok.Aduh!Tapi,untung juga nggak perlu keluar ongkos.Ikut aja deh!
“Nggak perlu bayar uang ongkos,kan?”tanyaku.Dennis tertawa,aduh bodohnya aku!
“Ya!Udah buruan naik,aku masih ada les privat di rumah.Nih,helmnya.”ucap Dennis menyodorkan helm batoknya padaku,aku memakainya,lalu naik ke motor Dennis,lalu ia menyalakan motornya dan melajukannya di jalan raya.Aku tak berani berpegangan,namun ia menyuruhku agar tidak jatuh.Dan benar saja,ia mengebut.Hampir membuatku jantung-an.Lho?Emang aku punya penyakit jantung?Haha!
Di perjalanan aku senyum-senyum sendiri dengan suasana ini.Aku dibonceng Dennis!Apa kata Tiara nanti,ya?Hahaha.Tiba-tiba motor Dennis berhenti di lampu lalu lintas.Kakinya langsung turun menahan motornya.Dia begitu cekatan.Dennis menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya.Wajahku memerah.Lalu secepat mungkin ia melepaskannya,dan kembali pada kemudi.Melajukan motornya lagi.Ohh…
Lima belas menit di perjalanan,akhirnya aku sampai juga di rumah.Sebenarnya berhenti di tikungan,Dennis memutar motornya,lalu aku turun,menyerahkan helm,dan mengucapkan terima kasih.Lalu berpamitan.Dennis dengan cepat melajukan lagi motornya.Dan aku berjalan menuju rumah.Senangnyaaaa!!!!
Saat akan memasuki rumah,aku melihat taksi di depan garasi rumah,lalu Mama dan Papa keluar sambil menarik dua koper besar.Aku berlari mendekati mereka.
“Lho?Mau pergi kemana?”tanyaku terkejut.
“Mama sama Papa mau ke Bandung,tante Lisa mau melahirkan.Kita diminta kesana untuk ngumpul sama keluarga yang lain,sayang,”jelas Mama.Aku merengut.
“Aku nggak diajak?”tanyaku lesu.Papa mendekatiku lalu merangkulku.
“Kita Cuma 4 hari di Bandung,lagian kamu kan harus sekolah.Kalo libur pasti Papa ajak,nanti deh,kita lebaran ke Bandung sama-sama,mau nggak?”tanya Papa.Aku mengangguk.Lalu mereka memeluk ku erat,dan pergi menaiki taksi menuju bandara.Aku menatap mereka dari belakang taksi bersama tante Irma.Kita melambaikan tangan,lalu tante Irma mengajakku masuk ke dalam rumah.
Ilo menarik celana biru rumahku,ia mengajakku untuk membeli es krim di luar.Aku mengelak malas,aku lagi banyak tugas,namun bocah botak kecil ini memaksaku.Dan hebatnya ia bisa menarikku sampai ke garasi.
“Kak!Itu tukang es-nya!Ntar keburu pegi!Buruan!”teriak Ilo di bawah pundakku.Aku menyerah dengan kesal.Lalu membelikannya es krim coklat,ia begitu riang saat aku belikan es krim.Penderitaanku belum selesai,ia mengajakku bermain dengannya.
“Ilo adek Kak Ridha sayaaang,kakak lagi banyak tugas,main sama Andre aja,ya?”bujukku mengelus kepalanya yang botak.Ia tiba-tiba menangis,aku memeluknya berusaha menenangkannya.
“Nggak!Selama Papa sama Mama pergi,kak Ridha harus nemenin Ilo maen di rumah!”teriak Ilo di telingaku.Aku kasihan juga.Dan akhirnya aku menemaninya menonton film kartun.Ohh!
Saat menemani Ilo,tiba-tiba handphoneku berdering.Nomor tidak dikenal,dengan ragu aku mengangkatnya,lalu menjauh dari Ilo.
“Halo?”tanyaku.Tak ada jawaban,lumayan lama.
“Halo?!Siapa ini?”tanyaku sedikit emosi.
“Dennis,”jawabnya datar.Suara yang familier!Dennis pangeranku!
“Oh,a-ada apa,ya?”tanyaku gemetaran memegang handphone.
“Mm-mm..nggak apa-apa,Cuma mau memastikan ini nomor kamu apa bukan.Takutnya Tiara bohong sama aku.Nggak apa-apa,kan?”tanya Dennis.
“Tiara?Jadi?”tanyaku terkejut.Tiara?Kok bisa?
“Iya,dia tetangga aku,kamu nggak tahu ya?”tanya Dennis.Aku terdiam sebentar.Lalu mengerti.
“Oh,”jawabku seadanya.Dennis juga terdiam.
“Eh,besok kan minggu.Mau pergi kemana?”tanya Dennis.Tumben Dennis cerewetnya kayak gini.Aku jadi aneh,jangan-jangan dia punya dua kepribadian.Hahahaha.Aku sih kalau minggu biasanya main ke rumah Sasa.Atau dia yang main ke rumahku.
“Kayaknya dirumah aja,jagain adek,”jawabku berbohong.Kan Ilo masih bisa dijaga sama tante Irma.Hehe.
“Kamu punya adek?Umur berapa?”tanya Dennis mulai cerewet dan ngotot.
“Iya,namanya Ilo,baru 4,5 tahun.Bulan Juli nanti 5 tahun,deh.”jawabku terkekeh.Dennis tertawa merdu.
“Bisa nggak besok kamu nonton aku lomba tennis di GOR 75?”tanya Dennis.Aku bingung,Ilo bagaimana?Aku sih mau saja nonton dia lomba.Tapi…
“Kalau nggak ajak aja adik kamu sekalian,ntar pulangnya aku antar,deh.Gimana?”tanya Dennis semangat.Betul juga.Sekalian biar Ilo jalan-jalan.Nggak apa-apalah.
“Oke,deh.Nanti kalau misalnya batal,aku bakal telfon kamu.”jawabku tersenyum.
“Aku harap kamu bisa datang.Bye,”balasnya lalu memutuskan telfonnya.Ya,walaupun singkat,tapi aku senang dia mengundangku secara langsung.Aku menatap Ilo yang juga menatapku dengan tampang bingung.Aku memeluknya erat.
“Besok ikut kakak,ya,kita jalan-jalan!”ucapku melepaskan pelukanku lalu mencubit pipinya.Ia jingkrak-jingkrak kegirangan.Aku tersentak mengingat tugas sekolah.Aku langsung lari ke kamar.Dan Ilo mengintil dari belakang.Bocah ini !
MENONTON
Tante Irma terus tak mengijinkanku dan Ilo menonton perlombaan Dennis.Ia tak menjamin aku bisa menjaga Ilo baik-baik.Takut Ilo kenapa-kenapa katanya.Aku sudah memelas,memohon,sampai emosi pada tante Irma.Sedangkan Ilo sedang bermain di teras bersama Andre,keponakanku.Aku juga sudah jadi tante ternyata.
“Please,ya,tante Irma..aku udah hampir terlambat.Nggak enak udah ditungguin sama temen.Ilo bakal aku jaga super esktra,deh!”ucapku memelas sambil mengangkat dua jariku.Tante Irma menatapku tajam,lalu matanya tenang dan teduh.
“Kamu sih gak ngomongin kemarin,jadinya gini ,kan ?”tanya Tante Irma.
“A-aku .. “ aku tak bisa berkata-kata sambil menunduk,mau nangis.Beneran!
“Pulang jam berapa?”tanya Tante Irma.Aku langsung loncat memeluk dirinya.Aku sungguh bahagia.
“Sebelum jam 6 kok!Tante tenang aja!Ini juga sekalian Ilo nggak bosen di rumah terus-terusan!Thanks,ya,tante!”jawabku tersenyum ceria memamerkan gigiku sambil menatap Tante Irma berbinar-binar.
“Ya,sudah.Hati-hati,ya!Jaga Ilo baik-baik!”jawab Tante Irma.Lalu mengantarkanku dan Ilo ke depan untuk naik taksi.Nggak apa-apalah mahal sedikit.Demi Ilo juga Dennis.Sebentar lagi sudah hampir jam 1,pertandingan segera dimulai!Aku tak mau terlambat.
Untung saja taksinya ngebut.Aku dan Ilo sampai di tempat dengan waktu yang tepat.Cukup ramai.Aku tak melihat Dennis dimana-mana.Ilo memakai kaos biru bergambar mickey mouse dan celana pendek.Lucu sekali.Sedangkan aku memakai kaos putih dan celana jins abu-abu,simple aja.Rambutku terurai cantik,menurutku.Tas selempang kecil tersangkut di pundakku.Aku menggandeng tangan kecil Ilo,ia seperti anakku saja!Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.Aku berbalik,Dennis tentu saja.
“Hei,”sapaku tersenyum.Ilo merapat padaku.
“Hei,mmm..kau tampak cantik,”jawabnya tersenyum malu.Wajahku memanas,Ilo tertawa.Dennis langsung menggapai tangan Ilo,tersenyum melihatnya.Ilo balas tersenyum.
“Aku Dennis,”ucap Dennis menunduk menatap Ilo.
“Ilo,”jawabku.Ilo tak mau bicara,ia malu.Dennis tertawa,lalu kembali menatapku.
“Ayo aku antarkan ke tempat duduk VIP,khusus untuk kalian,”ucapnya menarik tanganku mengikutinya.Ilo masih dalam genggamanku.VIP?Aku hampir melongo.
“Duduk tenang disini,ya.Aku akan segera bersiap-siap,”ucapnya tersenyum.Aku melihat handband merah di tangan kanannya.Ia tampak tampan.Sungguh.Lalu ia berlalu sambil berlari ke arah yang ku tak tahu.Aku duduk tenang di tempat duduk paling depan.Karena Dennis,Ilo merengek padaku meminta snack.Aku membuka tas selempangku lalu memberikannya coklat.Tadi kita sempat ke warung dulu sebelum memasuki GOR.Di sekitarku begitu mulai ramai.Ada anak SMA sepertiku,banyak sekali.Ada Ibu-ibu dan Bapak-bapak.Banyak juga anak kecil.Semuanya tampak bersemangat menonton pertandingan ini.Tiba-tiba dari arah belakang aku mendengar dua cewek membicarakan Dennis.
“Tau gak?Tadi Dennis nganterin cewek gitu,siapa ya cewek itu?Mudah-mudahan sih bukan ceweknya,ya..”bisiknya,masih terdengar sebenarnya.Aku hanya tersenyum kecut.
Aku merasakan getaran pada tas selempangku,ponselku berbunyi.Aku merogoh dan mengangkatnya.
“Halo?” sapaku datar.
“Ridha!Nonton gak bilang-bilang!”teriak Sasa memekakkan telingaku.Oh,Tuhan!Aku lupa tak memberitahunya.Iya juga,aku bias mengajaknya.Tapi,bagaimana kalau dia suka juga dengan Dennis ?Lho?
“Maaf,deh.Aku lupa,kalo mau datang saja kemari,”jawabku lemah.
“Nggak,deh.Aku mau pergi sama Mama,tadinya aku mau ngajak kamu.Eh,malah udah ada acara.Lain kali aja mungkin,ya!Daahhh…”jawab Sasa mematikan ponselnya.Aku hanya terdiam lalu memasukkan ponsel ke dalam tas lagi.Dan sepertinya pertandingan akan segera dimulai.Dari arah kiri aku melihat Dennis melambaikan raket tennisnya yang besar sambil tersenyum.Aku membalasnya dengan lambaian tangan dan tersenyum juga.Sedangkan Ilo masih sibuk melahap snacknya.Sesekali aku mengelap mulutnya yang belepotan.Aku sudah seperti Ibunya saja.
Pukulan pertama Dennis begitu hebat dan mulus,satu skor untuknya.Semua langsung bertepuk tangan.Dennis tampak tampan dan hebat.Lalu ia memukul lagi,kini beda,lawannya yang laki-laki juga memukul dengan sangat keras.Dan mengenai wajah Dennis.Semua langsung teriak,aku terlonjak berdiri menutup wajahku.Aku melihat dari celah jariku,Dennis tersungkur,lalu berdiri lagi.Menatapku lalu tersenyum,aku teruduk lagi sambil tersenyum tenang.Orang di sekitarku langsung memperhatikanku.Kurasa wajahku memanas.
Di akhir pertandingan,Dennis tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.Ia menang,ia juaranya!Aku tersenyum melihatnya.Semua orang berdiri sambil bertepuk tangan.Aku menarik tangan Ilo lalu berlari ke bawah menghampiri Dennis dengan perasaan bangga.
“Hei!”teriakku tersenyum.Dennis menoleh.
“Hei,kau lihat?”Tanya Dennis tersenyum sombong.Aku menatapnya aneh,lalu kita tertawa berdua.Ilo terus menempel padaku.Tiba-tiba ada yang datang dari belakang Dennis,cowok yang tadi memukul wajah Dennis.Aku sedikit marah padanya.Ia menyapa Dennis,lalu mereka seperti tertawa.Kok mereka akrab?
“Ridha,kenalin ini teman satu sekolahku,Rezqa.”ucap Dennis padaku.Aku tersenyum lalu menyalami tangan cowok itu yang ku ketahui kini bernama Rezqa,ia tersenyum.Tanganny begitu dingin.Ia juga tampan,tapi mukanya sedikit menyeramkan seperti muka Dennis waktu dahulu.
“Apa ini adikmu?”Tanya Rezqa jongkok menatap Ilo sambil tersenyum.Ilo membenamkan wajahnya di balik tas selempangku.Kita bertiga tertawa melihatnya.
“Lucu dia,”ucap Rezqa mengelus pundak Ilo sambil tersenyum.Kok senyuman Rezqa kayak gitu,ya?Manis.Oh!
Dennis berdiri disampingku,”Ayo,pulang,”ajak Dennis.Aku tersenyum,lalu menggenggam tangan Ilo,pamit pada Andre.Lalu berjalan keluar.Aku mengikuti Dennis dari belakang.Dennis masih memegang raket tennisnya.Aku bingung.
“Nis,nggak ganti baju dulu?”tanyaku menghentikan langkah.Dennis menoleh,lalu tertawa dan mengusap keningnya.Lalu permisi untuk mengganti pakaian.Aku bersama Ilo menunggu di dekat motor Dennis.
BAKSO
Dennis menghentikan motor bebek hitamnya dipinggir tenda bakso pinggir jalan tak jauh dari GOR tadi.Aku menatap punggung Dennis bingung.Kok berhenti disini?Dennis sudah turun sambil mendekap Ilo yang tadi duduk didepan.Aku ikut turun.Dennis tampak begitu tinggi,memang kenyataannya begitu.Ia seperti ayah,dan Ilo anaknya.Ha ha.Aku menghayal lagi.
“Nggak apa kan aku ajak kalian makan dulu?”tanya Dennis menatapku.Kini kita duduk berjejer.Ilo di tengah.Tenda bakso ini belum terlalu ramai mungkin baru ada beberapa pelanggan.Aku kikuk.
“Nggak,kebetulan lagi laper juga.”jawabku tersenyum.Lalu kita memesan masing-masing,kecuali Ilo,aku memesankannya satu mangkuk bakso kecil saja.Ia tampak senang berada disini.Dennis pun mulai bercanda dengan Ilo.Aku melihatnya begitu senang juga takut.Lho?
“Kamu nggak seneng,ya?”tanya Dennis.Aku terkejut.
“Seneng,kok.Cuma sedikit gak enak badan aja,”jawabku.Memang kepalaku kini sedikit pusing.Dennis langsung mencemaskan keadaanku.Aku menjawabnya dengan senyum dan bilang tak ada apa-apa,aku baik-baik saja.Lalu pesanan datang dan kita makan bersama.Sesekali aku menyuapi Ilo dan tertawa bersama adikku juga temanku,Dennis.Well,sungguh menyenangkan.Namun,rasa pusing di kepalaku sepertinya mulai parah.Tapi,aku biarkan sajalah.
Tepat pukul tiga sore,aku sampai di rumah.Dennis sudah pergi lagi dengan senyum,juga perhatian,ia menyuruhku langsung istirahat karena aku bilang tadi kurang enak badan.Sedangkan tante Irma heran mengapa aku cepat sekali pulang.Aneh.Ilo langsung menghampiri Andre untuk bermain.Aku langsung masuk kamar untuk berganti pakaian,setelah itu rencananya aku mau menonton TV.Namun,kepalaku pusingnya minta ampun.Aku langsung membaringkan tubuhku dengan lemas.Meremas kepalaku rasa pusing itu.Tante Irma mengetuk pintu kamarku sambil memanggil namaku.Aku hanya bilang masuk,dan tante Irma menemukan mukaku pucat dan berkeringat dingin.
SAKIT
Aku membuka mata perlahan.Pandangan masih buram,lalu tak lama aku melihat langit-langit kamarku.Aku merasa wajahku dingin bagian kening,aku meraba,ada handuk kecil.Ya,aku sakit sekarang.Tak ada siapa-siapa disampingku,tak seperti di film-film,ada lelaki yang menunggu seorang cewek yang sedang sakit.Aku tertawa kecil renyah.Ngarep,deh!Tiba-tiba aku tante Irma masuk ke kamarku,ia membawa sebuah mangkuk putih kecil.Oh,tidak!Bubur,ueekkk!
“Tante udah telfon sekolah kamu,bilang kamu sakit.Nah,sekarang makan dulu,ya.Biar perut kamu gak kosong.”ucap Tante Irma.Aku merindukan mama.Aku duduk diatas kasurku.
“Tante udah telfon Mama?”tanyaku.
“Tante udah coba telfon,tapi gak diangkat.Sepertinya mama lagi sibuk,”jawab Tante Irma.Perasaanku langsung sedih.Mama pun tak tahu kalau anaknya lagi sakit.Apalagi Papa,kan mereka bersama.Padahal Papa kan dokter.Lalu dengan pasrah aku mengambil mangkuk itu dan memakan bubur tawar itu dengan perasaan ragu namun mau,maksudnya?Walaupun rasanya tak ada,aku tetap menelannya.Sedih.
Siangnya aku sudah mulai mendingan.Dugaanku gara-gara aku makan bakso terlalu banyak pakai sambal.Atau bisa saja bakso ada racunnya.Masa,sih?Sudahlah,aku sudah mulai enakan kok.Paling besok bisa ke sekolah lagi.Tak perlu sampai beberapa hari di rumah.Ya sedikit membosankan.Aneh ya.Waktu di sekolah inginnya cepat pulang,malah tak ingin sekolah.Tapi,waktu di rumah inginnya cepat-cepat ke sekolah lagi.Ada-ada saja dan aku salah satunya.Aku duduk di sofa sambil menonton TV.Ilo dan Andre bergelung memainkan mobil-mobilannya di bawah kakiku.Mereka berisik,tapi tak apa.Aku memperhatikan TV dengan sedikit konsentrasi.Aku malah memikirkan Dennis.Lho?Tak tahu,aku sedikit kangen padanya.Ha ha ha.Apalagi setelah sikapnya yang berubah drastis dan secepat ini.Aku kira setelah bunuh-membunuh,ia baru mau berteman denganku.Se-sadis itu kah?Tiba-tiba ponselku yang berada di saku celana bergetar,aku langsung mengangkatnya.Sasa,ia menanyakan masalah sakitku.
“Aku tanya Imel katanya kamu sakit,kok bisa?Sepi tahu gak ada kamu!Apalagi tadi Tirta nanyain kamu!”seru Sasa di dalam ponsel.Heu?Tirta?Apalagi ini?Kenapa sih Sasa masih membicarakan Tirta.Namun aku penasaran juga.
“Nanya apa?Kok bisa?”tanyaku datar,sebenarnya penasaran dan menggebu dalam hati.
“Ya,tadi di kantin aku ketemu sama dia juga temen-temennya yang waktu di angkot.Dia tanya sama aku kenapa sendirian gak sama kamu,gitu,”jawab Sasa secara detail.Bibirku bergerak sedikit tersenyum.Aku akui senang juga diatanya sama Tirta.Lalu Sasa bercerita tentang di sekolah tadi,ada cowok yang menyatakan cinta padanya,ia dapat nilai bagus,dan hal-hal lainnya.Aku hanya tertawa saat mendengar ia jatuh di tangga saat buru-buru naik karena hampir telat masuk kelas.Sasa punya seribu cerita yang membuatku tak bosan lagi.Terimakasih sahabat.
Malamnya aku berbaring di kasur.Pusing itu datang lagi.Tante menyuruhku istirahat lagi,padahal aku mau menonton acara TV kesayanganku.Tapi tante melarangku.Ilo tiba-tiba menghampiriku lalu bergelung disampingku,memelukku walau tangannya tak cukup.Ia tampak imut dan lucu.
“Ayo bikinin Ilo kapal telbang lagi,”ucap Ilo manja.
“Ntar aja ya,kakak lagi pusing.Oke?”tanyaku menatapnya.Ilo mengangguk.Tiba-tiba tante Irma masuk sambil membawa gagang telfon rumah.Aku langsung duduk di kasur,sedangkan Ilo berlari turun keluar kamar.Dia lincah sekali.
“Ini,Mama mau bicara,”ucap Tante Irma.Aku tersenyum lalu mengambil gagang telfon itu dengan cepat.Mama malah memarahiku,walau aku tahu ia cemas.Namun aku berharap Mama akan memanjakanku.Aku salah.
“Iya,Ma.Aku gak bakal makan sembarangan lagi,”jawabku lemah.Tante Irma duduk disampingku menunggu.Lalu setelah jawaban Mama,aku menyerahkan telfon itu pada Tante Irma,aku bilang aku lelah,kepalaku pusing lagi,dan meminta Tante Irma saja yang berbicara pada Mama.Aku membenamkan wajahku dengan guling,menangis.MY LIFE NEED MUCH MAGIC!!
KEJUTAN
Aku berdiri disamping Sasa,kita sedang berada di kantin setelah kesembuhanku.Kami sedang berteriak sambil menunjukkan uang.Begitu sesak dan panas.Ibu dan Bapak Guru yang menjaga kantin masih cuek pada kami yang lapar dan haus.Namun tetap berusaha dan bersikeras.Tiba-tiba ada tangan panjang dan putih diatas kepalaku.Ia berbicara begitu keras namun merdu,meminta satu teh kotak pada salah satu Ibu Guru.Lalu setelah mendapat minumannya tangan itu lenyap juga suaranya.Aku langsung berkonsentrasi lagi pada jajananku yang belum juga di perdulikan.
“Dek,ambil ini aja,”tiba-tiba ada suara di belakangku dan ada tangan yang menepuk pundakku.Aku berbalik,juga Sasa,karena suaranya besar.Tirta?!Aku langsung gelagapan.Menunduk lemah.
“Nggak apa-apa,saya juga kayaknya gak butuh minuman ini,”ucapnya lagi membujukku.Sasa menyikutku,mengiyakan.Aku tersenyum malu lalu mengambil teh kotak itu dengan ragu dan tanganku bergetaran.
“Makasih,kak”ucapku menatap Tirta,sedangkan ia hanya mengangguk tersenyum manis sekali lalu pergi keluar kantin bersama teman-temannya yang lain.Sasa langsung menggodaku dengan teriakannya.
“Cie cie cie….”ucap Sasa tersenyum jahil.Aku menatapnya tajam,menyuruhnya diam.Wajahku memanas sepertinya.Tirta membelikanku minum!Kurasa lututku lemas.Dennis?
LOMBA NYANYI
Setelah dari kantin,Sasa berpamitan pergi ke kelasnya.Kita kan beda kelas.Aku masuk kelas menenteng teh kotak dari Tirta,dan roti coklat.Di mejanya Fadel,ketua kelasku ada ribut-ribut.Hampir semua teman kelasku mengerubungi mejanya.Aku mendelik heran,lalu ikut nimbrung disitu.
“Ada apa,sih?”tanyaku pada Sandy,teman cowok yang paling lincah di kelas.
“Itu,ada lomba nyanyi dalam rangka perpisahan beberapa guru.Bu Ratna(wali kelas)udah nentuin 2 orang yang harus ikut lomba ini,”jawab Sandy.
“Oh,dipaksa gitu?”tanyaku lagi menggigit roti coklatku.
“Iya,sabar ya,Da!”jawab Sandy tersenyum menepuk pundakku.Apa?Maksud dia?Hah?!!Aku langsung menerobos kerumpulan teman-temanku.Menatap Fadel tajam.
“Saya juga?!”tanyaku marah.Fadel terkejut melihatku.Ia memperbaiki kacamatanya yang melorot.Lalu mengangguk,dan memberikanku selembar kertas.Apaan nih?Aku membaca dengan jelas.Hah?Lagu bahasa Inggris?Waduh!Emang sih aku suka sama bahasa Inggris,tapi kalau untuk menyanyikan di depan seribu murid SMA 3 gak akan aku terima!Apalagi kalau Tirta sampai menontonku.Apalagi ini lagu zaman dulu.Jadul,deh!Aku berlari ke bangkuku.Menyimpan segala jajanan.Bella menghampiriku dari kerumunan di meja Fadel.
“Mau ikut?Suara kamu kan cempreng,”ucap Bella tersenyum remeh.Ia mulai menyebalkan sekarang.Aku sedikit kesal.
“Apa,sih?!”tanyaku marah.Lalu membuang muka,konsentrasi pada lomba nyanyi.Apalagi yang ku dengar-dengar lomba itu akan diadakan minggu depan.Apa bisa aku bernyanyi tanpa gugup,atau mungkin tersandung kabel michropone?Tiba-tiba suaraku tercekat?Dan yang paling parah kalau salah lirik dan Tirta tertawa melihatnya.Aku menutup wajahku dengan lembaran kertas itu.Atau mungkin malah aku mendapat keberuntungan dan semua murid akan mengenalku dengan suaraku dan bahasa Inggrisku yang fasih?Berjuang Ridha!Its show time!
“Bu,nggak bisa diganti ya lagunya?Saya punya lagu lain yang cocok sama saya,”ucapku memelas pada Bu Ratna.Ia menatapku bingung.
“Lagu apa itu?”tanya Bu Ratna akhirnya.Aku bernapas lega.
“Ini,Bu,”ucapku menunjukkan selembar kertas lain berisi lirik lagunya Taylor Swift-Love Story.Lagu favoritku saat ini.Bu Ratna terdiam sebentar lalu mengiyakan permohonanku.Aku rasanya ingin memeluk Bu Ratna!Ha ha.
“Dan Ibu sudah siapkan Juna sebagai pengiring musiknya,dia kan pintar bermain musik,”ucap Bu Ratna lagi.Seandainya Dennis yang mengiringiku.
“Tapi,kamu bisa bawa pengiring orang lain,”ucap Bu Ratna lagi.Aku berbinar-binar.
“Bukan dari sekolah ini nggak apa-apa,Bu?Misalnya sepupu atau saudara saya lainnya,”tanyaku memasang wajah berharap.
“Boleh,”jawab Bu Ratna mengiyakan.Bu!Baik deh!
LATIHAN
Aku menelfon Dennis saat di jalan pulang sekolah,aku kali ini naik becak.Sasa dijemput sama kakaknya,jadi aku terpaksa naik becak,kalau naik angkot sendirian aku sedikit takut.
“Jadi,bisa nggak?”tanyaku cemas.Dennis terdiam.
“Mmmm…boleh-boleh,kapan mulai latihan?”tanya Dennis.Aku tersenyum ceria.
“Besok di rumah aku gimana?Di rumah ada gitar kok,”jawabku.Oh ya,Dennis pernah bilang kalau ia bisa memainkan alat musik seperti piano(yang paling ia suka),gitar,drum,dan biola.Enak ya jadi anak pinter musik kayak dia!Bisa jadi superstar seperti para penyanyi Amerika yang main film di Disney Channel.Seperti Miley Cyrus,Demi Lovato,Jonas Brothers dan masih banyak.Aku ingin seperti mereka.Tiba-tiba aku ingat lagi akan mentalku tampil didepan banyak orang.
“Oke,sore ini jam 4,bisa?”tanyaku.
“Siap bos!”jawab Dennis.Aku tersenyum.
Sudah jam empat sore,malah lebih lima menit.Dennis belum datang juga,mungkin macet atau ada urusan bentar,aku hanya terdiam di sofa menonton.Masih menunggu kedatangan Dennis.Tiba-tiba tante Irma muncul dari luar,membawa kabar baik.
“Tuh,temen kamu datang.Bule ya,Da?”tanya Tante berbisik.Aku tertawa lalu menggeleng.Dan berlari ke depan melihat Dennis.Dia sungguh tampan,kini pakaiannya lebih santai.Kaos oblong putih,dan kemeja biru kotak-kotak yang dibiarkan terbuka seperti jaket.Celana jins hitam membuatnya tampak lebih cool.Ia tersenyum membawa gitar hitam mulus.
“Kok?”tanyaku menunjuk gitarnya.
“Aku lebih cocok sama gitar sendiri,nggak apa-apa kan?”tanya Dennis.Aku mengiyakan lalu menggandeng tangan Dennis menyuruhnya masuk.
Lima belas kemudian latihan selesai.Aku memberikan Dennis segelas es jeruk.Ia tampak senang saat mendapat minuman segar.Lalu tak lama ia pamit pulang karena masih ada les privat di rumah.Hebat!Dia sepertinya makin jenius saja.
“Daaahhh…”ucapku melambaikan tangan selagi motor bebek hitam Dennis meninggalkan rumahku.Lalu aku masuk dengan senyuman,tapi tak terlalu lebar.Tadi aku menyanyikan lagu Taylor Swift-Love Story.
Esoknya hari Selasa,aku mulai rajin berlatih di kelas.Bukan di depan teman-teman,saat jam istirahat,aku diam di kelas sampai kelas kosong.Dan aku mulai bernyanyi.Tiba-tiba Sasa mengagetkanku.Ia terkejut saat aku mulai menyanyi,namun berhenti karena kehadirannya.Aku mencibir.
“Gak bilang-bilang mau konser!”seru Sasa tertawa cekikikan.Aku cemberut menatapnya.
“Bukannya dukung malah ngejek!Minggu depan,nih!”tegurku marah.
“Iya,Cuma bercanda kok.Eh,tadi aku ketemu Tirta di kantin,salam tuh buat kamu katanya.”ucap Sasa tersenyum sambil menyikutku.
“Waalaikumsalamm deh,”jawabku datar.Sasa terbahak-bahak lagi.
Tirta?Nitip salam buat aku?Hahahahaha.Gak mungkin!Paling Cuma sebagai adek dan kakak kelas seperti biasanya kan?Ah,udah deh.
Sandy dan sahabat sebangkunya,Dion menghampiriku.Mereka begitu akrab,saling merangkul.Aku kagum mereka begitu bersahabat.Tak seperti aku dan Bella yang mulai merenggang karena kecurangannya yang membuat Imel dan Caca sampai menangis.Aku semakin tak menyukai Bella yang sekarang dan aku pun menjauh dengan duduk disamping Riri.
“Da,ikut lomba nyanyi ya?” tanya Dion.Aku mengangguk sambil terus berjalan bersama mereka juga Sasa untuk naik angkot.Sasa sedang telfon dengan seseorang sambil berjalan,jadi tak begitu menghiraukan kehadiran Sandy dan Dion.
“Eh,kemarin sama siapa tuh?Naik motor sama adek kamu juga,”tanya Sandy.Dennis-kah?
“Temen,kenapa?”tanyaku ketus.
“Nggak,”lalu mereka hilang menaiki angkot jurusannya.Sedangkan aku dan Sasa menyeberang dan naik angkot jurusan kami berdua.
Di dalam angkot tidak terlalu ramai.Mungkin hanya ada tiga orang selain kami berdua.Aku duduk di pojok,dekat jendela.Aku menyenderkan kepalaku di jendela.Sedangkan Sasa masih asik bermain dengan handphonenya sambil senyam-senyum.Aku tergoda juga untuk bertanya.
“Siapa,sih?”tanyaku mencoba melihat handphonenya.Ia langsung merangkulku.
“Kakak kelas kita yang tempo hari,Da!Ternyata dia anaknya asik terus romantic bangeettt….”jawab Sasa.Aku berpikir,siapa sih?Kan banyak tuh waktu itu diangkot.Tirta bukan?
“Siapa tuh?”tanyaku mengerutkan kening berpikir.Sasa tertawa malu-malu sambil menutup wajahnya yang merah merona.
“Yang paling manis,baik,dan ramah…Adit!”jawab Sasa merangkulku lebih erat.Dan orang di sekitar kami pun memandang dengan tatapan aneh dan datar.Aku langsung melepaskan rangkulan Sasa.Bisa-bisa aku dianggap tidak normal.
“Ntar kamu juga ditinggalin,bentar lagi kan mereka lulus.Terus di kampus kepincut sama cewek kuliahan yang lebih cantik juga sexy.Udah,deh.Adit terlalu tua buat kamu,Sa.Cari aja yang sebaya.Kan banyak tuh di sekolah.Siapa lagi itu mantan kamu waktu SMP..mmmhhmmm…Dion!”seruku pada nama Dion.Sasa langsung menekuk wajahnya.
“Gak!Adit lebih baik dari Dion.Apa tuh Dion?Ih,gak deh!”jawab Sasa melipat kedua tangannya menyender ke jendela pinggir.
“Emang kalian udah pacaran?”tanyaku sedikit penasaran.
“Udah,kamu tahu gak?” aku menggeleng,”waktu aku pergi sama Mama ke mall,aku ketemu sama temen Mama,ternyata temennya itu Ibunya Adit!Da,Adit keren banget pake baju bebas,casual gimana gituuu…hahahaha,”ucapnya tertawa kecil.Sasa semakin kasmaran,”terus waktu kita akhirnya makan bareng,hahaha,kayak udah mau dijodohin aja!Bapak Ibunya baik banget sama aku,terus seneng waktu tahu ternyata anaknya satu sekolah sama aku!Dan kamu tahu?”aku menggeleng sekali lagi.
“Bapak Ibunya ngundang aku ke rumah mereka.Dan waktu kamu sakit,sepulang sekolah aku maen ke rumah mereka sama Mama juga kak Irfan,sampe disana aku diajak jalan-jalan sekeliling rumah mereka sama Adit!Ada Kak Irfan juga,sih.Tapi tiba-tiba Adit minta nomor telfon aku!Dan setelah itu kita sering telfon sama sms-an.Trus dia nembak aku,katanya dia udah suka merhatiin aku di sekolah sebelum kita kenalan sama dia!Ooohhh….”jelas Sasa tak ada titik koma.Aku terkejut mendengarnya.Kok jadi cerewet gini sih Sasa?
“Paling bohong,biar kamunya mau sama dia.”jawabku singkat.Sasa langsung menekuk wajahnya lagi.Sampai aku turun,dia tak berbicara dengan ku lagi.Marah?Gak urus ah.Namanya juga sahabat memberikan nasehat yang baik,gak mau dengar?Ya,udah.Nanti kalo udah diputusin sambil nangis-nangis.Jangan cari sahabat ya!Salah sendiri buang sahabatnya.Habis manis sepah dibuang!Wuuuuu!
Sepulang sekolah aku langsung latihan lagi,tak bersama Dennis.Ia lagi ada kesibukan les.Jadi aku berlatih bersama kakakku,Dimas.Ia jago juga main gitarnya.Lalu latihan pun dimulai meski awal-awalnya suara gitar tak bersahabat dengan mengeluarkan suara fals,kita langsung tertawa bersama.
“Bilang Papa beli gitar baru,dek.”ucap Dimas.Aku hanya memutar bola.
“Udah!Tapi Papa bilang,jangan mubazir,gitarnya masih bagus kok.Males,deh!”jawabku.Tak lama aku kembali bernyanyi diiringi petikan gitar dari Kak Dimas.
“Love Story”
We were both young, when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts-
I’m standing there, on a balcony in summer air.
I see the lights; see the party, the ball gowns.
I see you make your way through the crowd-
You say hello, little did I know…
That you were Romeo, you were throwing pebbles-
And my daddy said “stay away from Juliet”-
And I was crying on the staircase-
begging you please don’t go…
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess,
It’s a love story, baby, just say yes.
So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet, because we’re dead if they knew-
So close your eyes… escape this town for a little while.
Oh, Oh.
Cause you were Romeo - I was a scarlet letter,
And my daddy said “stay away from Juliet” -
but you were everything to me-
I was begging you, please don’t go-
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess.
It’s a love story, baby, just say yes-
Romeo save me, they’re trying to tell me how to feel.
This love is difficult, but it’s real.
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess.
It’s a love story, baby, just say yes.
Oh, Oh.
I got tired of waiting.
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading-
When I met you on the outskirts of town.
And I said…
Romeo save me, I’ve been feeling so alone.
I keep waiting, for you but you never come.
Is this in my head, I don’t know what to think-
He knelt to the ground and pulled out a ring and said…
Marry me Juliet, you’ll never have to be alone.
I love you, and that’s all I really know.
I talked to your dad — go pick out a white dress
It’s a love story, baby just say… yes.
Oh, Oh, Oh, Oh, Oh.
We were both young when I first saw you.
Dan selesai,
ITS SHOW TIME
Seminggu sudah kulalui dengan latihan bersama Kak Dimas juga Dennis.Jam 8 pagi tepat,acara PENSI sekolahku pun dimulai.Aku melihat panggung besar itu bertengger di tengah lapangan upacara yang luas.Tiang bendera terlihat tinggi di belakang panggung.Aktifitas belajar mengajar di hentikan untuk hari ini dan besok.Dua hari PENSI,hari ini untuk lomba-lomba,besok hari pengumuman pemenang,dan ada penampilan band kecil dari sekolahku.Kabarnya Tirta akan memainkan bass.Wow!Sasa masih dengan Adit,dan katanya Adit bakal menabuh drum.Sasa sudah tak sabar.Namun ia harus menunggu karena itu besok.
Keringat dingin meluncur deras dari seluruh badanku.Aku hanya menggunakan pakaian sekolah biasa.Seragam putih,rok abu-abu se-lutut.Yang berbeda rambutku diurai panjang.Masih tetap dengan ponik tebalku yang cantik.Oh,ya.Aku juga tampak berbeda,gigiku baru saja dikawat.Saran dari Dimas dan Mama,lalu aku meminta gigiku di pagerin oleh teman Papa yang bekerja sebagai dokter gigi.Dan mendapatkan diskon.Untung saja Papa setuju dan mengirimkan uang ke Makassar.Kini aku merasa lebih enak dan keren.Kebanyakan kan kalau cewek pakai kawat gigi terlihat manis.Apa aku juga?Haha.
Imel mendatangiku dengan selembar kertas,ia mengalungi tanda panitia PENSI.Dia kan anggota OSIS.Ia tampak sibuk dan cantik.Ia memberikan aku selembar kertas itu dengan tersenyum melihat kawat gigi baruku.Aku balas tersenyum.
“Ini,daftar acar PENSI kita hari ini.Jadi kamu gak kaget kalau dipanggil tiba-tiba.Kamu urutan ke 5 untuk naik ke panggung setelah sambutan kepala sekolah,dan sambutan dari ketua OSIS sama anak OSIS lainnya.Aku juga gugup ntar naik keatas panggung.”ucap Imel ikut gemetaran.Urutan kelima?Waduh,cepet banget!Dennis belum datang juga,tadi aku telfon katanya sudah mau berangkat.Aduh,Dennis kemana,sih.Dan acara pun dimulai.Kepala Sekolah Pak Adjie tampak begitu semangat dengan senyum sumeringah-nya.Aku tak seperti siswa-siswi yang lain.Aku hanya menonton dari dalam kelasku.Sedangkan yang lain tumpah ruah ke lapangan.Penuh sesak.Mereka ada yang berteriak saat Pak Kepala Sekolah membuka acara yang ditunggu-tunggu.Aku gigit jari.Tiba-tiba ada bunyi yang mengejutkanku,Dennis!Napasnya terengah-engah sambil duduk disalah satu bangku kelasku.Tangannya memegang gitar.Aku langsung memberinya minum yang memang aku siapkan untuk dirinya.Ia begitu tampan dengan t-shirt putih polosnya,dan cardigan biru tuanya.Rambutnya dibuat berantakan namun tampan,apa sengaja atau karena ia naik motor?
“Tadi,macet.Aku titip motor di rumah orang,terus lari ke sini,maaf ya aku sedikit berantakan.Belum terlambat kan?”tanyanya setelah meneguk teh gelas yang kuberikan.Aku tersenyum.
“Gak kok,minum lagi.”jawabku tersenyum duduk disampingnya.Ia tampak menatapku terkejut.Pasti kawat gigiku.Ugh,apa dia melihatnya dengan jelek?
“Dikawat,ya?”tanyanya.
“Ya,kenapa?”tanyaku menutup mulut lalu membuang muka.
“Mmm…manis,”jawabnya.Aku langsung merasa wajahku panas.Lalu mengajaknya untuk latihan satu kali lagi.Aku tampak gerogi.Dan aku merasa pengucapan Inggrisku lebih bagus setelah memakai kawat gigi.Lucky girl!
“Kita tampil urutan ke-lima.Kamu siap?”tanyaku.
“Ya,kamu?”tanyanya balik.
“Mudah-mudahan…”jawabku mengatur napas yang mulai menderu saat Dennis menatapku lekat-lekat.Di kelas itu,aku memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengobrol.Teman-temanku yang sebagian berada di kelas sambil mengerjakan sesuatu mulai menyadariku dan Dennis,lalu menggodaku dengan semangatnya.Aku merasa wajahku semakin memanas.Sementara Dennis hanya bisa tertawa sambil sesekali meneguk teh gelasnya lagi.Ia tampak lebih rileks sekarang.
Lalu tak lama setelah mengobrol dengan Dennis,namaku tiba-tiba dipanggil.Aku langsung gemetaran,Dennis menarik tanganku untuk naik ke panggung.Di koridor kelas menuju panggung yang tak terlalu jauh.Aku semakin deg-degan.Seluruh siswa-siswi memandangi kita berdua.Mungkin Dennis saja,karena dia tampak keren dengan gayanya.Celana hitam rock n roll dan sepatu converse.Memang tampan dan cool.Lalu semua bertepuk tangan saat aku dan Dennis berada di atas panggung.Disediakan tempat duduk untuk Dennis.Stand mike milikku,juga satu mike menyoroti Dennis.Ia juga menjadi backing vocal.Lalu gitar Dennis dipasangi oleh kabel untuk membuat suaranya terdengar.Aku baru menyadari gitar Dennis beda dengan gitarku.Aku tak tahu apa namanya,aku kurang begitu tahu tentang alat music.Aku hanya senang mendengar dan menyanyi.Dennis menyetel gitarnya,lalu petikan pertama membuatku semakin gugup.
“Good morning,semua..”sapaku tersenyum.Semua langsung membalas dengan antusias sambil bertepuk tangan.Aku merasa seperti Miley Cyrus atau Demi Lovato.Oh,begini rasanya di atas panggung dengan ditonton banyak orang.Aku melirik Dennis untuk memulai.Dennis tersenyum sambil membisikkan.
“Kau bisa,”ucapnya lembut.Aku langsung tersihir.Dan semangatku untuk bernyanyi pun timbul.Aku mulai menggoyangkan kepala dan kakiku sedikit saat music mulai mengalun dari gitar akustik Dennis.Semua makin teriak.Aku melihat Sasa bertepuk tangan.Aku memetikkan jari hitungan ke-empat.Lalu bernyanyi.Aku mohon semua berjalan lancar ya,Allah..
“Romeo take me somewhere, we can be alone.I’ll be waiting all there’s left to do is run.You’ll be the prince and I’ll be the princess,It’s a love story, baby, just say yes…”
Suaraku mengalun,tanganku juga bergerak sesuai music.Aku sunggu menikmati.Semua penonton juga berteriak senang sambil ikut bernyanyi.Lagu ini memang sedang hits.Aku melambaikan tangan keatas dan menyuruh mereka mengikuti,dan mereka ikut.Aku merasa seperti bintang sesungguhnya!Waow!
“We were both young when I first saw you…..”
Lagu pun berakhir,aku tersenyum mengucapkan kata terima kasih.Sambil menunduk.Semua langsung bertepuk tangan senang.Aku takjub melihatnya.Lalu Dennis menggandengku turun menuruni panggung.Aku masih gemetaran,lalu tertawa sendiri bersama Dennis.Ia tampak keren tadi.Ia memang musisi!
“Kau hebat tadi,aku kagum.” Ucapnya tersenyum menatapku saat duduk di kantin untuk makan siang.Aku tersenyum sambil menyeruput es jerukku.
“Kamu juga.Aduh,aku lega sekarang…enak juga ya tampil diatas panggung.Aku rasanya mau lagi bernyanyi seperti tadi!”seruku.Dennis tertawa terpingkal-pingkal melihat semangatku yang membara.
Selesai penampilanku,Dennis langsung minta izin pulang duluan,dia harus segera kembali ke sekolahnya.Ia juga meminta maaf tidak bisa mengantarkanku pulang.
“Ridha!Cool!” teriak Sasa mengejutkanku,untung saja Dennis sudah pulang duluan.Aku tertawa,Sasa juga.Ia duduk disampingku,tempat duduk bekas Dennis.
“Aduh,Da…kamu harusnya lihat betapa semangatnya Tirta dan betapa matanya berbinar-binar waktu kamu tampil tadi!”seru Sasa,aku langsung membekapnya.Aku menyuruhnya diam,takut-takut ada orang lain yang dengar.Sasa mengangguk.
“Masa,sih?”tanyaku berbisik.
“Iya,beneran.Tadi aku diajak nonton sama Adit ditempat anak kelas 12,aku liat Tirta semangat banget..”jawab Sasa tersenyum dan berbisik.Aku terkejut.Tirta sampai segitunya?
“Biar aja,deh.Gak penting,”ucapku tak perduli.
“Tadi dia juga sedikit sewot waktu ngelihat cowok yang iringin kamu,katanya lebai gayanya.Hahahaha.Itu Dennis yang pernah kamu ceritain?” tanya Sasa masih berbisik.Aku sedikit tergoda dengan pernyataan Sasa yang terakhir,namun aku sudah janji untuk memendam perasaan itu pada Tirta.No more love for you!
“Mmm…iya,itu tadi Dennis,”jawabku tersenyum kecil.
“Ohhh,”Sasa menganguk-angguk mengerti,”dia kemana?Kok ngilang?”tanya Sasa.Aku nyengir.
“Udah pulang,dia kan harus balik ke sekolahnya lagi.Tadi dia Cuma minta ijin aja sebentar sama sekolahnya,”jawabku.
“Enak ya sekolahnya si Dennis,ngertiii…banget!”ucap Sasa.Aku hanya tertawa kecil dan mengangkat kedua bahu.Pokoknya hari itu hari yang paling menyenangkan!Aku harus lebih brave lagi di sekolah ini kalau gak mau dikucilin.
DENNIS BIRHTDAY
Lagu Jason Mraz,I’m Yours,terdengar mengalun merdu dari komputer di dalam kamarku.Aku ikut menyanyikannya,menyamakannya dengan Jason Mraz yang juga menjadi idolaku.Ketukan pintu membuatku terdiam.Tante Irma.
“Ada temen kamu,tuh.”ucapnya.Aku langsung loncat dan menuju pintu luar.Astaga,Dennis!
“Hai,”sapaku ragu.Dennis tersenyum dan membalas sapaanku.Ia tampak gugup,ia masih mengenakan baju seragam sekolahnya,aku yakin dia baru pulang.Ngapain dia bela-belain kesini?
“Da,besok dateng ya,ke acara ulang tahun aku di Pizza Hut MP,”ucapnya tersenyum memberikanku secarik karton kecil berwarna merah muda.Aku terkejut,besok?Duh,aku harus kasih hadiah apa.
“Ya,jam berapa?”tanyaku.
“2 siang,kamu bisa ajak temen kamu atau Ilo sekalian,”ucapnya.Aku mengangguk.Lalu Dennis beranjak.
“Aku pulang ya,jangan lupa besok.”Aku mengingat sesuatu,aku menahan Dennis untuk tak pergi dahulu.
“Besok kan les piano,kita mau bolos?”tanyaku.Dennis tertawa kecil.
“Tenang,semua orang di tempat les kita udah aku undang,jadi yaaa…bisa dibilang besok les pianonya diliburkan satu hari aja.”jawab Dennis tersenyum.
“Oke,deh.”jawabku semangat.Dennis pun pergi dengan motor bebek hitamnya.Aku tersenyum menatapnya dari belakang.
Keesokan harinya,aku pergi sendiri,akhirnya.Aku hanya mengenakan t-shirt lengan panjang warna kuning,dan celana jins hitam.Sambil menenteng tas selempang di lengan,dan membawa plastik putih berisi kado untuk Dennis,album musik terbaru dari Jonas Brothers.Grup yang paling ako favoritkan.Mudah-mudahan Dennis senang.Aku baru saja membelinya tadi sebelum ke Pizza Hut.Aku buru-buru membungkusnya dengan kertas kado warna kuning,warna kesukaanku.
Pestanya begitu ramai,hampir semua orang datang.Ada Tiara juga,dan anak-anak les piano lainnya yang angkuh-angkuh itu.Mereka sedikit terkejut saat melihatku datang.KENAPA LIAT-LIAT?!Tanyaku dalam hati saat Monic,salah satu anak angkuh,yang menatapku di pintu masuk.Bajunya begitu ketat dan kurang bahan.Ih!Jijik!Jadi cewek tuh jaga diri baik-baik.Bukannya mengundang apalah itu!
Aku tersenyum saat menemukan Dennis di meja tengah,hanya ada dua bangku.Dennis menyuruhku duduk di bangku salah satunya.Aku berhadapan dengan Dennis,dan aku baru sadar Dennis sengaja menyimpan kursi spesial ini untukku.Mata-mata disekeliling kami menatap curiga,ada yang berbisik.Dennis,kamu kok ngundang mereka yang angkuh-angkuh itu,sih?Tanyaku miris dalam hati.Hampir lupa,aku memberikan kado untuk Dennis dengan tersenyum.
“Happy B’day,ya,Dennis!”seruku tersenyum memamerkan kawat gigiku.Dennis menerimanya dengan senang.
“Thanks,ya.Eh,makan-makan.”ucapnya.Lho?
“Kan belum potong kue,kok udah langsung makan?”tanyaku.Denis tertawa.
“Kamu witty banget!” hah witty?Hahahahaha.”Aku gak ngadain acara potong kue,tamu masuk, langsung makan,nggak apa-apa.Aku udah siapin pizza spesial buat kamu.”ucapnya lagi.Aku jadi malu,Dennis bertepuk tangan dua kali.Lalu muncul pelayan membawa nampan yang berisi dua piring kecil pizza,bentuknya yang paling membuatku tercengang.Bentu hati!Love!Aku rasanya ingin menangis.
“Makan,Da.Ini spesial lho,”ucap Dennis.Aku pun memakannya dengan disertai canda tawa dari Dennis yang membuat ulang tahun itu menjadi lebih terkesan bahagia,tak seperti dugaanku sebelumnya.
“I love Pizza!Mamma mia!Numero uno!”seruku pada Dennis sambil bergaya ala orang Italia.Dennis semakin tertawa.Saat dia tertawa,manis banget.Hatiku semakin luluh dan terenyuh…Halah!Hahahahaha.
“Ternyata kamu baik,ya,Nis,”ucapku tertawa kecil sambil menyeruput cola flout-ku.
“Maaf ya kalau kemarin-kemarin di tempat les aku jahat sama kamu,itu semua karenaa…aku gugup kalau dekat kamu,”jawabnya.Gugup?Kenapa?
“Kenapa?”tanyaku penasaran.Dennis menatapku lekat dan serius.Ia menatap lurus kedua mataku.Membuat pipiku memerah.
“Aku suka sama kamu,”jawabny lirih.APA?Rasanya jantungku mau copot.Dennis menembakku!Ia menyatakan perasaannya padaku.Apa yang harus aku jawab?Bagaimana Tirta?Apa?Aku masih memikirkan Tirta.Kepalaku jadi pusing sekejap.Aku hampir oleng,
“Kamu gak apa-apa?”tanya Dennis memegangi lenganku saat aku hampir jatuh.Aku menggeleng tersenyum tipis.Lalu duduk dengan manis lagi.
“Tadi kamu bilang apa?”tanyaku meyakinkan pendengaran.
“Da,aku malu kalau harus ngomong gini,tapi…mmm aku sayang sama kamu,”jawabnya menunduk.
Aku tersenyum memandang Dennis,lalu aku juga bilang kalau aku sayang sama dia.Dennis mendongak tersenyum,lalu menggenggam tanganku,aku sedikit terkejut,baru kali ini tanganku digenggam selain dengan ayah,atau saudara laki-lakiku.Wajahku pasti sudah memerah.
LOVE
Tidurku malam ini tidak nyenyak.Mata tak mau terpejam.Malah bibirku tergerak untuk senyum-senyum mengingat kejadian penembakan Dennis tadi siang.Aku kini punya pacar!Dan Dennis-lah yang menjadi pangerannya.Ini pertama kalinya aku pacaran.Tapi,apa aku tulus cinta sama Dennis?Atau malah mengharapkan Tirta yang mulai menyadari keberadaanku?Aku bingung.Rasanya kepala ini mau pecah saja.Bayangan Dennis dan Tirta terus mengisi kepalaku.Oh tidak!
Malam itu aku insomnia,kata itu aku dapat dari Sasa.Insomnia penyakit yang tidak bisa tidur itu kan?Pagi ini aku belum memberitahu Sasa tentang penembakan Dennis,nanti saja waktu istirahat.Ponselku bergetar tadi pagi,Dennis kirim sms.Katanya,hati-hati ya di sekolah,miss you..’ aku langsung luluh.Begini ya rasanya pacaran ? Haha .Aku sampai deg-degan kalau melihat Dennis menghubungi ponselku.
“Sa,mau cerita dong,”ucapku menatapnya waktu duduk bersebelahan di kelasku.Sasa melirik sebentar,lalu kembali fokus pada hapenya.Ya,aku rasa dia masih sibuk dengan Adit.Kenapa ga ngobrol langsung aja sih di sekolah?Satu sekolah ini.
“Malu tau kalo ngomong tatapan muka langsung,belum lagi diliatin sama orang,”jawab Sasa mencibir.
“Oh,eh tau gak?Dennis nembak aku kemaren,”ucapku datar sambil meminum teh kotak.Sasa batuk-batuk sambil mencengkram lengan kiriku.Aduh!
“Sakit!”seruku melepaskan tangannya.
“Beneran,Da?Kok bisa?Trus kalian pacaran?”tanya Sasa tanpa titik koma.
“Iya,kita pacaran,ya karena aku suka dia suka.Gimana,sih?Kamu sama Adit juga gitu,kan?”tanyaku.Sasa mengangguk.
“Kapan?Kapan?”tanya Sasa tak sabaran.Kapan apaan?
“Kalian jadiannya,Bu!”jawab Sasa.Ohh..
“Kemaren,”jawabku tersenyum manis.Sasa masih tak percaya padaku,ia terus memohon agar aku menjelaskan secara rinci bagaimana Dennis menembakku.Eh,kenapa harus disebut tembak,sih?Kalo nembak kan mati,tau!
Semenjak Sasa tahu,ia selalu menggodaku jika ponselku berdering.Dimanapun,dia kenapa sih?Risih jadinya!Padahal aku gak pernah atau mungkin lebih bisa dibilang jarang membicarakan tentang Adit-nya pada Sasa.
Sepulang sekolah,aku dan Sasa menyusuri jalan untuk mendatangi tempat berdiamnya angkutan umum.Tas ku terasa berat,karena piala yang kubawa.Aku juara dua lomba nyanyi tingkat kelas 7!Haha.Ini akan jadi berita bagus,aku sengaja merahasiakannya pada Dennis,sore nanti saja aku memberitahunya,di tempat les piano.Ia pasti akan terkejut dan tersenyum bangga dengan hasil kerja kita berdua.Sasa menatapku bingung yang senyam-senyum sendiri.
Senyum terus mengembang di bibirku saat aku menaiki tangga satu per satu menuju kelas piano.Gak peduli deh sama teman-teman kelas yang angkuh itu kalau aku senyum terus,biar aja kalau mereka mau bilang aku gila atau apa-lah!
“Da,gimana lombanya?”tanya Dennis,ia duduk sebangku terus setiap les piano.Aku jadi tambah senang.Tiara memperhatikanku dan Dennis dari bangkunya.Memasang tampang menyelidik dan penasaran.
“Kita menaaaaaaang!”teriakku tersenyum ceria.Piala itu kini ada dikamarku,diatas lemari.Aku sudah memamerkannya pada Tante Irma,Kak Dimas,Ilo,juga Andre!Hahahaha.Dennis ikut tersenyum,namun tiba-tiba ia menunduk,memegang keningnya.Aku jadi khawatir.
“Den,kenaapa?”tanyaku menepuk lengannya.Ia mendongak,lalu berlalu.
“Gak apa-apa,aku ke toilet dulu,ya.”ucapnya datar sambil berlalu keluar kelas menuju toilet,ia tampak lemah,dan sempat kuperhatikan wajahnya tadi itu pucat.Setelah Dennis pergi,Tiara langsung loncat menghampiriku.
“Kalian kok akrab banget?”tanya Tiara.
“Akrab gimana?Biasa aja kayak orang pacaran lainnya,”jawabku polos membuka lembaran novel yang kubawa tadi.Hanya melihat-lihat,belum niat untuk membacanya.
“What?!Kok bisa,sih?Gak percaya aku!”seru Tiara menatapku dengan kedua matanya yang hampir keluar dari tempatnya.
“Ya,gitu,deh,aku suka dia ju….”
“DENNIS PINGSAN!DENNIS PINGSAN DI TOILET!!!!!!!” teriakan Janu,teman sekelasku memutuskan perkataanku.Aku terlonjak,teriakan itu membuatku berdiri melongo,kini gantian kedua mataku membulat.Aku hampir jatuh,untung saja Tiara mencengkeram lenganku,lalu menyeretku menuju tempat Dennis pingsan,seisi kelas pun ke sana.
Astaga!Teriakku dalam hati waktu lihat Dennis terkapar di lantai,aku menerobos kerumunan,lalu menghampiri Dennis,duduk disampingnya dengan gelagapan cemas.Air mataku turun begitu saja.Janu dan teman lainnya langsung memapahnya ke bangku panjang dekat toilet,aku duduk disampingnya,menepuk-nepuk wajahnya berharap dia akan siuman. “Jan,Dennis kok bisa pingsan?!”tanyaku.Janu mengangkat kedua bahunya.
“Gak tau,Da.Tadi gue liat udah pingsan,”jawab Janu.Tiba-tiba Dennis sadar,matanya membuka perlahan,lalu langsung berusaha duduk saat melihatku duduk disampingnya.
“Ridha?”tanya Dennis lemas mengacak-acak rambutnya.Ia terkejut saat melihat semua teman les piano menontonnya dengan pandangan cemas.
“Lho?Ngapain semua disini?”tanya Dennis.
“Kamu pingsan,”jawabku menenangkan Dennis dan memberinya segelas air mineral.
“Lha?”tanya Dennis bingung. Setelah itu semua kembali ke kelas,termasuk aku dan Dennis,aku memapahnya ke kelas.Ia masih tampak pusing dan lemah.Apalagi rambutnya yang acak-acakan ini,tambah membuatnya tampak kusut seperti orang sakit.
“Tadi pusing banget,thanks ya,”ucap Dennis tersenyum.
“Iya,kamu kalo masih pusing pulang aja,”jawabku menyarankan.Dennis menggeleng,ia tak mau aku pulang sendiri nanti habis les piano.Aduh,dia perhatian banget!
“Ya,udah.Aku pulang duluan,emang masih pusing,”jawab Dennis mengalah,setelah mendapat izin dari Bu Hilda,ia pulang.Tidak dengan motor bebeknya,menelfon sopir keluarganya untuk minta dijemput.
Selesai itu aku masuk ke kelas karena pelajaran les piano akan segera dimulai.Aku duduk sendiri di bangku hari ini.Namun,tiba-tiba Tiara membawa tas kecilnya lalu duduk disampingku,senyumanku kembali lagi.Ternyata aku juga membutuhkan Tiara,teman yang baik selain teman-teman kelasku lainnya.
“Gak mungkin kan kamu duduk sendirian?”Tanya Tiara.Aku mengangguk senang,ya walaupun kita dimarahi Bu Hilda karena kebanyakan mengobrol,tapi aku senang.Dan,mudah-mudahan saja Dennis cepat sembuh.Apalagi sepertinya besok gak bisa ketemu dia.
Ponselku berdering,aku langsung mengangkatnya sambil bergelung dengan gulingku di kasur.Malam ini aku bebas tanpa PR,karena besok gak belajar,Cuma senam aja di Sekolah.Saat mataku mulai terpejam,ponselku berdering,aku membuka mata lagi,lalu mengangkatnya.
“Halo?”tanyaku lemas.
“Ridha,ini mama,”jawab Mama.Aku langsung terjaga dan duduk menyender di tembok.
“Kok nelfon ke hape?”tanyaku.Mama tertawa kecil.
“Takutnya tante Irma udah tidur,kamu kan suka begadang,jadi mama telfon ke hape aja,gak ada masalah kan di rumah?”Tanya Mama.Aku tersenyum.
“Oh,iya,gak ada apa-apa.Mama sama Papa di Bandung gimana?”tanyaku.
“Baik,tante Lisa udah melahirkan sayang,baru aja,anaknya lucu,putih,ganteng lagi.Namanya Putra.Tante Lisa salam tuh buat kamu,”jawab Mama.
“Wah,mama ntar bawain aku fotonya,ya!Eh,Ma,aku menang lomba nyanyi!”jawabku mulai semangat.
“Hebat anak mama,Ilo gimana?”Tanya Mama.
“Biasalah anak kecil,rewel.”jawabku seadanya dan memang kenyataannya.
“Behel kamu?” Tanya Mama.Aku tertawa,menutup mulutku yaaa walau mama tak bisa melihatnya.
“Lucu,Ma.Warna biru langit.Ya,seminggu makannya kurang enak,tapi sekarang udah mulai biasa kok.”jawabku terkekeh.
“Ya,udah.Minggu depan Mama baru pulang,ya.”ucap Mama.Hah?Minggu depan?Kenapa?
“Iya,Papa ada urusan,trus Mama juga mau jalan-jalan di Bandung.Kan enak tuh,”jawab Mama.
“Yeee…ya udah deh,hati-hati,ya,Ma!”jawabku tersenyum walau hati ini rasanya cemburu!Lalu seusai mengobrol dengan Mama lewat telfon,aku tidur dengan memeluk gulingku.Dan berharap memimpikan Dennis.
OSIS DAN TIRTA
Aku melangkahkan kaki sambil menyangkutkan tes selempang di lenganku.Seperti biasanya,aku memakai baju olahraga yang memang dianjurkan.Karena hari Jumat selalu senam bersama di sekolah.Hari ini aku datang lebih pagi.Saat sampai di kelas,Dion langsung menghampiriku.
“Da,cowok yang waktu itu siapa?”Tanya Dion.Aku mengerutkan dahi.
“Dennis?”tanyaku.Dion mengangguk.Lho,kenapa?
“Ntar ketemuin aku sama dia,oke ?”Tanya Dion.Hah?Dion ini cewek apa cowok?Kok ngotot banget ketemu sama Dennis?
“Mau ngapain?”tanyaku mendelik aneh sambil berjalan masuk menuju bangku.Dion berjalan disampingku dengan nyengar-nyengirnya gak karuan.
“Minta ajarin maen gitar donk!Kan tau selama ini permainan gitar aku jelek.Gimana,sih?”jawab Dion masih nyengar-nyengir sok keren.Aku tertawa,lalu menyetujui permintaannya itu,kalau Dennis-nya juga mau,sih.Hehe.Gak janji ya,Dion!
Selesai senam yang melelahkan dan GEJE(kurang kerjaan),aku dan yang lain masuk kelas untuk mengaji,kalau gurunya juga datang.Jadi,main-main aja deh di kelas.Kacau,apalagi kalau anak cowoknya pada main sepak bola dalam kelas pake botol,dasar anak kecil,gak modal lagi pake botol bukan bola beneran.
Aku berjalan ke ujung pintu kelas,sambil berkacak pinggang sambil mendengus kesal karena hari ini kelas sepi dan kotor!Caca sama Nadia lagi pada baca komik,giat amat.Imel gak masuk,katanya ada urusan keluarga.Kalo Bella?Gak tau deh,udah lama gak ngobrol sama dia,nyebelin banget.
“Ridha,” tiba-tiba suara itu mengejutkanku.Suara itu dari Adnan,ketua OSIS sekaligus kapten basket sekolahku.Katanya sih banyak yang demen sama dia,katanya anaknya manis,ganteng,lucu,juga baik.Cuma satu yang gue setuju,baik orangnya.Dia menghampiriku sambil tersenyum dan membawa lembaran kertas.
“Ya,kak,kenapa?”tanyaku balas tersenyum sambil menurunkan tangan,kan gak sopan aja sama kakak kelas kok gayanya gitu?
“Imel ada ?”tanya Adnan.Imel?Ngapain nyariin Imel,nih?Jangan-jangan.Adnan suka sama Imel lagi?Haha.
“Gak masuk,kenapa kak?”tanyaku lagi.Adnan celingak-celingkuk ke dalam kelas.Gak percaya ya sama aku?Dasar wong edan!
“Oh,gak apa-apa,Cuma mau ngasih tahu buat pendaftaran anggota OSIS,soalnya kita masih butuh anggota,pemilihan dari guru-guru kemarin belum cukup,apalagi kan anggota OSIS kelas tiga-nya udah pada mau lulus,” jelas Adnan,aku hanya bisa mengangguk-angguk saja.
“Kamu ada minat?”tanya Adnan mengejutkanku.Aku berpikir keras,kayaknya boleh juga ya masuk OSIS?Pengen ikut ber-organisasi juga.Boleh,deh.
“Ehm,boleh-boleh,kak,”jawabku tersenyum.Adnan juga tersenyum,lalu memberikanku lembaran kertas itu.
“Ini,kamu umum-in sama teman-teman di kelas,oke?Ditunggu ya,Da,”ucap Adnan berlalu.Aku mengangguk-angguk mengerti.Ternyata Adnan baik juga.Ya,walaupun udah saling kenal di ekskul basket,kita berdua jarang ngobrol.
Setelah jam pulang sekolah,aku bukannya pulang tapi malah masuk ke ruang OSIS,sendirian,teman-teman sekelasku pada males ikutan OSIS,ya udah aku aja sendirian ke ruangan itu sambil sedikit deg-degan.Sampai disana,aku mengucapkan salam,lalu terpaku karena mereka sudah berkumpul semua.Dan…aku melihat TIRTA!Rasanya aku ingin keluar dari ruangan itu,trus lari jauh-jauh buat ngejar Sasa yang mungkin belum naik angkot.Tapi,gak bisa.Adnan tersenyum menyambutku,lalu menyuruhku duduk disampingnya,semua mata tertuju padaku.Aku duduk sambil nyengar-nyengir.
“Assalammualaikum,siang ini saya akan membuka rapat OSIS,”ucap Kak Adnan berdiri gagah.Semua bertepuk tangan sambil menjawab salam Adnan.
“Baik,kali ini kita kedatangan anggota OSIS baru dari kelas 10,silahkan kepada anggota baru untuk memperkenalkan diri.”lanjut Adnan.Keringat dingin mulai bercucuran.Satu per satu memperkenalkan dirinya,dan ini giliranku.Aku beranjak dari kursi,lalu berdeham sedikit,dan..
“Nama saya Ridha,dari kelas 1 IPA-1 ,terima kasih.”ucapku tersenyum kaku lalu kembali duduk.Aku melihat Tirta tersenyum.Oh,Tuhan!
Hari itu rapat dimulai dengan serius juga canda tawa yang dicelotehkan oleh semua anggota OSIS,termasuk Adnan.Begitu seru dan penuh tawa.Aku kira akan membosankan dengan pembahasan yang tak penting menurutku.
“Jadi,kita akan mengadakan observasi ke beberapa SMA di Makassar .Saya akan bagi menjadi beberapa kelompok,satu kelompok terdiri dari 4 orang.Semua daftar nama nanti saya minta.Baik,silahkan menulis nama masing-masing dari kertas bergilir dan langsung saya bagi ke beberapa kelompok,silahkan,”ucap Adnan.Aku pertama menulis.Karena aku paling dekat dengan Adnan,posisi duduknya.Adnan begitu ramah.Setelah sepuluh menit mungkin ada,Adnan membagi menjadi beberapa kelompok.Saat namaku disebut,aku merasa gugup.Kenapa,ya?
“Kelompok ketiga,Ridha,Lisa,Adit,”oh,iya,ada Adit juga ternyata,”dan Tirta.”lanjut Adnan.Kedua mataku membulat,mampuusssss!Aku bisa kaku terus kalo deket-deket sama Tirta.
“Silahkan yang telah tahu kelompoknya masing-masing untuk duduk satu kelompok,kita akan segera bagi tugas,ayo!” ucap Adnan setelah semua kelompok ditentukan.Kakiku terasa kaku saat berjalan mengunjungi Adit dan Tirta,aku duduk disamping Lisa,ia baik juga,ia dari kelas IPS-3,aku tersenyum menjabat tangannya.Lain hal dengan Adit dan Tirta yang memang sudah kenal denganku,mereka hanya tersenyum sambil bercanda gurau.Lisa,yang tak kenal masih terkesan diam,malu.
“Sasa mana,Da?”Tanya Adit tersenyum-senyum.Dasar,lagi rapat gini nanyain pacar.Jadi iri dan inget Dennis!Coba aja aku sama dia satu sekolah.
“Udah pulang,kak.Baru aja,”jawabku jujur.Adit terlihat kecewa.
“Oh,dia gak ikut OSIS ?”Tanya Adit lagi.Tirta mengobrol dengan orang di belakangnya.Lisa hanya duduk menyender menatap kedua tangannya.
“Gak mau katanya,”jawabku.Adit hanya tersenyum.Lalu Adnan menepuk tangannya sekali untuk meminta diam.Ia menjelaskan sambil menulis-nulis sedikit di whiteboard sambil sesekali menunjuk sekretaris,bendahara,dll.Ia tampak ramah dengan semuanya.Dan semua cewek terdiam menatap Adnan yang lagi ceplas ceplos di depan.Tirta dan Adit begitu serius mendengarkan temannya itu yang di depan,Adnan.Tak lama,Adnan memberikan waktu untuk masing-masing kelompok membagi tugas pada anggota-anggotanya.Di kelompokku,Tirta menjadi ketua dan entah kenapa Adit memilihku sebagai wakil,aku hanya bisa menerima pasrah.
“Oke,kita dibagi tugas untuk melakukan observasi di SMA 6,”ucap Tirta.APA?!Aku gak salah dengar?SMA 6?Itu kan sekolahnya Dennis!Awal-awal aku merasa senang kalau bisa ketemu Dennis,tapi,nanti kalau Tirta ketemu Dennis?Lho emang kenapa?Hah sudahlah.Adit sedaridati terus berceloteh canda tawa.Kami berempat terus tertawa lepas.Yang lain juga sama,dan ruang OSIS tampak rebut namun akrab.Sesekali guru lewat lalu-lalang memperhatikan kita semua.
“Da,kamu bisa jadi fotografer?”Tanya Tirta menatapku.Hah?Aku?
“Ehm..bisalah kalau foto-foto,”jawabku seadanya.Tirta mengerutkan dahi,lalu tersenyum.
“Ya,udah,kamu saya tugasin buat jadi fotografer di observasi kita nanti,”ucap Tirta.Aku mengangguk lemah.Untung saja aku punya kamera digital di rumah.Jadi aku bisa pakai itu.Tirta menoleh pada Lisa.
“Sa,tulisan kamu bagus?”Tanya Tirta.Lisa mengangguk,langsung saja Tirta menyuruh Lisa menjadi sekretaris atau tukang yang kebagian nulis-nulis hal-hal yang penting.Setelah itu Tirta mengumumkan kalau Adit ditugaskan buat jadi perantara ke kepala sekolah SMA 6 nanti bersama Tirta.Jadi hari Senin nanti kita semua anak OSIS bakal libur belajar satu hari,asik!Tapi kita bakal sibuk di beberapa SMA,karena nanti kita bakal mengadakan PENSI,dan katanya lagi di PENSI itu kita bakal ngundang salah satu band indie.Wauw!
Selesai rapat,aku berjalan sendiri keluar sekolah.Lisan dan yang lain juga pada pulang,ada yang naik becak,ada yang dijemput,ada juga yang sama kayak aku,naik angkot.Tapi,waktu keluar gerbang,aku terkejut melihat pemilik bebek hitam menggunakan jaket hitam sambil tersenyum menyodorkan helm padaku.
“Dennis?”tanyaku terkejut melihatnya di hadapanku.
“Ya,ayo aku antar pulang,gara-gara kemarin aku gak bisa anter kamu pulang.”jawab Dennis.Baik banget dia.
“Oh,kamu udah sembuh?Repot amat jemput aku,”tanyaku menerima helm Dennis lalu memakainya.Dennis naik ke motornya,lalu menyuruhku naik.Tahu aku masih menunggu jawaban,ia pun menjawab.
“Yaaaa seperti orang pacaran lainnya,kalo jemput kan gak masalah,”jawab Dennis.Aku langsung tertawa.Lalu Dennis melajukan motor bebek hitamnya dengan santai.Saat melewati depan sekolah,aku melihat Tirta dan Adit menatapku sambil melambaikan tangan,aku balas melambaikan tangan.Udah kompak,mereka baik juga.
“Nis,nanti Senin aku ke sekolah kamu.” Ucapku di telfon.Malam itu sambil mengerjakan PR bahasa Inggris,aku menelfon Dennis di dalam kamar.
“Oh,ya?Mau ngapain?”Tanya Dennis gak terkejut sama sekali dari nada suaranya.Aku sedikit kecewa.
“Kegiatan OSIS,”jawabku datar.
“Ikut OSIS?”Tanya Dennis.
“Yaiyalah,kenapa emangnya?”tanyaku mulai emosi.
“Gak apa-apa,ya udah deh kamu belajar aja sana,kan Senin juga kita ketemu,daaaahhh…” jawab Dennis memutuskan telfonnya.Aku melongo.
“Daahh..”jawabku lirih di jawab dengan nada tut..tut…tut..Akhir-akhir ini Dennis jadi mulai cuek dan gak peduli sama hal-hal yang aku lakuin.Aku jadi ragu kita ini masih pacaran atau enggak?Lalu aku menyalakan ponselku memutar lagu Vierra-Perih.



0 komentar:
Posting Komentar